Tentang Penulis yang Pergi atau Ini Kisah Emak-emak Klean dan Aku

Ilustrasi: Nucleus Market

Bisakah aku berbagi sedikit rasa penasaran?
Tentu saja tentang hal-hal yang sementara masih berupa dugaan. Tapi aku tidak meminta klean—kawan-kawanku yang, kudoakan, selalu tangguh berkumpul di semacam kuburan digital (grup WA bernama sama dengan blog ini!)—mencarikan jawabannya.

Baeklah. Kita mulai.

Aku punya seorang kawan yang belum pernah kutemui dan bercakap-cakap muka dengan muka. Kawanku ini adalah kawanmu, kawan klean juga. Aku akan menjelaskan beberapa kesaksian tentang kawan klean ini.

Kawan kita ini adalah emak-emak dengan ketekunan menelusuri sumber-sumber manakala sedang membahas satu hal. Sumber itu tidak selalu tautan berita. Kadang-kadang ada filmnya. Sehingga, bagi kepala yang malas membaca berita, emak-emak kita yang satu ini adalah teladan dalam perkara bagaimana tabah menulis panjang.

Terlebih, pada era kebanyakan orang menyangka dan mulai membodohi diri dengan tulisan-tulisan pendek lantas berkomentar panjang-panjang. Mereka pikir kemalasan seperti itu akan tertutupi dengan makin aktifnya berkomentar serta seringnya merelakan kepala sebagai tempat sampah berita-berita. Dari satu sumber pula. Hiih!

Bahwa emak-emak kita ini membangun kesimpulan yang berlawanan dengan isi kepalamu, itu perkara yang niscaya sebab perbedaan adalah rahmat. Yang mau aku katakan, kesimpulan tidak dibangun lekas-lekas. Setuju, kan?

Ketekunan kedua. Emak-emak yang satu ini adalah is the best dalam perkara meng-absensi seluruh percakapan yang terlewati dalam grup. Satu per satu akan disapanya. Memang tidak selalu dengan kata-kata, sering juga dengan emoticon. Intinya, diabsen.

Sehingga emak-emak kita ini memberi pesan bahwa tidak ada kiriman yang tidak penting atau lebih penting. Termasuk yang sering sekali bersatu padu merisak klub sepak bola yang beiau cintai sepanjang hidupnya.

Prinsipnya, semua anggota grup WA harus diperhatikan. Mungkin dengan begitu akan betah. Juga kepada mereka yang hanya menyimak dalam senyap—padahal para sniper saja masih berkoordinasi dengan pos komando sebelum melakukan eksekusi dari jauh.

Etapi, ini bukan emak-emak yang dilahirkan zaman perang militer. Emang sih, perang paling brutal dimulai dari ambisi politik segelintir maniak yang menjadi elit kekuasaan.

Oh iya, ketekunan ketiga adalah begitu uletnya emak-emak kita ini menghadapi tsunami berita politik.

Saya harus akui bahwa staminanya di depan kemarut politik juga tergolong di atas tabah. Saya sendiri, yang belajar dunia seperti ini lewat bangku sekolahan dan sempat malang melintang tak karu-karuan olehnya, telah memilih untuk—dalam banyak peristiwa—mengabaikan.

Lebih tepatnya, memposisikan politik harian dan unit-unit yang mengabarkannya sebagai kondisi-kondisi yang menjijikan.

Dan emak-emak kita ini menunjukan bahwa apa yang menjijikan itu tidak boleh menjadi kecemasan yang senyap. Hanya di dalam diri dan sendiri-sendiri. Mestinya diungkap. Tidak penting rang-orang membahasnya dan melahirkan ratusan mention bagi mereka yang tidak membuka hp.

Mereka yang di DPR-RI sudah memasang pagar pengaman, masa’ di grup WA, mengungkap kecemasan dan kekesalan politik juga dihindari? Ooooww, oow..tidaak. Sejarah revolusi negeri ini bukan diwariskan masa depannya kepada mereka yang memilih bisu dan menikmati hidupnya sendiri.

Ketekunan selanjutnya.

Emak-emak klean dan akutu memiliki ketekunan melakukan semacam “digital forensik” terhadap keriuhan yang muncul karena tulisan pada blog keroyokan yang laku “Sharing and Connecting”-nya makin merosot.

Persisnya adalah digital forensik terhadap akun-akun tertentu. Akun-akun yang—gimana menjelaskannya yak?—intinya, mereka memainkan kamuflase dengan rapi tapi kurang canggih atau lupa diri. Kamuflase adalah selubung bagi aksi-aksi yang menipu.

Pernah baca “Kamufalse Hijau”? Tentang tipu-tipu perusahaan perusak lingkungan yang menggunakan praktik-praktik konservasi dan klaim sustainability seolah-olah dalam proyek mereka demi menghindarkan diri dari kemarahan publik dan penegakkan hukum?

Dalam pada itu—cieh, bahasa skripziong—ada orang-orang baik dan polos yang sangat rentan menjadi korban. En, mak-emak kita ini pernah mengingatkan aku. Kamu mungkin juga pernah bahkan terlanjur “korban”—aku pakai tanda petik dua kali lho yaa, jangan merasa–, tapi karena pengakuan itu memang berat walau tanpa tembok ratapan, biar aku saja…..hhh.

Maksudku, emak-emak klean dan aku ini mungkin ingin bilang: yang memangsa sesama biar di politik yang riil aja. Dalam digitalisme, jangaan.

Berikutnya…..ini bagian yang kusebut dugaan. Sekali lagi, dugaan. Dugaan menurut KBBI daring (1), adalah hasil dari kegiatan menduga, (2), sangkaan: perkiraan; taksiran. Sehingga jika menggunakan kalimat “aku menduga..” itu berpesan bisa bener bisa meleset. Tapi kalau “di luar dugaan”, maka semuanya meleset.

Dugaanku adalah emak-emak klean dan aku ini yang sudah tak lagi membagikan tulisannya yang panjang-panjang dengan  pencantuman sumber yang lebih dari tiga adalah karena…?

Mbeliau kini lebih gemar menjadi komentator berita walau dengan intensi yang masih cemas seperti dahulu kala. Karena itu, aku sudah tak tahu lagi peristiwa undercover sebuwa keriuhan karena panasnya isu tertentu. Siapa di balik apa, siapa mereka? Tak lagi aku tahu (dan malas tahu). Tetapi memang sih, yang riuh-riuh sudah mampus dari blog sebelah.

Mungkin karena itu juga, karena emak-emak klean dan aku ini meninggalkan gelanggang tulis menulis keroyokan, ada cara melihat yang ikut pergi. Tiada lagi akun yang kolom komentarnya bergelantungan saling balas hingga orang-orang baru akan bingung, khawatir atau malah menemukan kegilaan yang dicarinya sejak lama.

Seorang komedian Amerika pernah bilang, manakala humor hilang, peradaban juga pergi. Kalau emak-emak hilang, apa yang pergi??

Apa yang sedang terjadi dengan beliau?

Aku menduga pertanyaan atas ini masih merupakan jawaban yang bersifat dugaan juga di kepalamu. Aku menduga klean mungkin menduga-duga.

Apakah emak-emak klean dan aku ini telah lelah? Semacam kemerosotan yang mengiringi senjakala? Kemerosotan yang niscaya pada usia yang bertambah angka?

Dan sisanya, akutu merasa kita semua sedang merosot–KEMEROSOTAN LINTAS GENERASI. Sedang mem-payah-payahi diri. Buktinya, blog bareng-bareng ini selalu sepi. Saat yang sama, berharap ada saudara baru kita yang rajin menghidupinya dengan narasi. Tanpa lelah, tanpa berharap imbalan!

Helooooowww….

***

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here