Dua Titik

DUA TITIK

.

“Jangan!” kutarik tangan Farihah.

“Itu memalukan,” bisikku.

Surat yang diberi pemberat batu itu dibuka, dirapikan lalu diserahkan padaku.

“Aku tidak mau ikut campur lagi,” raut wajahnya berubah.

“Kalau memang menurutmu memalukan, mengapa tetap ngotot mau memberi surat?” dia membalik badan.

Salahku. Ragu. Takut melangkah. Pengecut? Mungkin.

“Ya sudah, aku berikan sendiri!” teriakku pada perempuan yang mulai melangkah jauh itu.

Dia hanya mengangkat bahu.

Kulihat Zikri, sudah jauh.

.

“Menurutmu, dia suka tipe perempuan seperti apa?”

“Burung merak memilih burung merak juga, Lia,”

“Jadi aku masih seperti itik buruk rupa sekarang?”

“Aku mau ke warung depan, jangan terlalu lama galau, kau mau titip apa?”

“Masak saja, Far. Aku belum bayar kos bulan ini,”

“Terlalu lama kalau menunggu nasi matang, aku keburu lapar,”

Farihah menutup pintu cepat-cepat. Tumben dia ingin sarapan sepagi ini.

Lalu kembali kupandangi surat itu.

Mohon maaf, Mas Zikri. Ini Aulia, yang di kos sebelah asrama. Saya sudah lama kagum dengan Mas Zikri, bisakah saya mengenalmu lebih dekat?

Sering kulihat mas Zikri berjalan menuju aula besar, lalu entah sejak kapan, hati ini mulai berdebar ketika melihatmu.

Bolehkah saya meminta tempat dalam hatimu?

(Aulia)

Surat ini kelihatan murahan sekali.

Masa pakai puisi sih? Lebih norak lagi. Zikri, kau membuat logikaku menguap.

.

(Alasan yang digunakan kaum transgender memakai bendera pelangi adalah terapi warna, merah muda terang sebagai lambang seksualitas, merah sebagai kehidupan, oranye sebagai penyembuhan, indigo sebagai ketenangan, kuning sebagai sinar matahari, hijau menggambarkan alam, ungu menggambarkan semangat hidup.

Di luar itu, kaum transgender menganggap pelangi adalah bendera dari langit yang mengandung arti solidaritas, ketulusan serta persatuan. Bentuk geometrinya dianggap mampu menutupi gejolak politik, sosial dan psikologis)

.

Konsentrasiku mengerjakan artikel bubar, suara microphone yang keras dari aula.

Suara Zikri terdengar sampai kamarku, latihan pidato. Suaranya bikin wanita satu kos ini dag-dig-dug. Harus kumulai duluan, kalau tidak kalah cepat. Ketika kerumunan cowok- cowok asrama itu berhenti untuk tegur sapa dengan wanita yang kos di sini, Zikri hanya menunduk, diam. Entahlah, dia seperti punya dunia sendiri lalu membentenginya hampir sempurna.

“Kalau kau terus memikirkan perasaanmu pada pria itu, kau tidak akan fokus mengerjakan yang lainnya,” Farihah datang sebungkus nasi

“Justru karena itu harus segera kuungkapkan, lalu ketika dia sudah menjawabnya, aku bisa tenang mengerjakan yang lainnya,”

“Itu hanya alasan, Lia,”

“Apakah Zikri dijodohkan orang tuanya? Apakah dia mencari perempuan yang highclass? Apakah…,”

“Kau bertanya setiap hari padaku soal apakah Zikri ini dan itu, pria di asrama sebelah itu lebih dari seratus, matamu hanya fokus pada dia saja. Kau yakin tidak gila?”

“Sudah sore, Far. Kita beli nasi atau masak?” ceramah Farihah harus dihentikan, kalau tidak dia akan terus bicara selama berjam-jam.

“Jangan mengalihkan pembicaraan,”

.

“Dari Zikri,” Gunawan menyodorkan sebuah amplop berwarna hijau tua.

“Kalian ini, tahun 2018 masih menggunakan kertas surat?” lanjutnya lagi.

“Sudah sana, berisik!”

Aku bergegas ke kamar. Tidak seru membaca surat cinta di halaman.

Jarak halaman ke meja kamar terasa begitu jauh. Begitulah hidup, kau akan merasa lama untuk sesuatu yang kita tunggu.

Kubaca surat balasan dari pria berwajah embun itu. Hatiku tidak karuan. Detaknya begitu cepat.

Kontrol, Lia. Kontrol emosimu.

Adik Aulia. Terima kasih atas perhatian yang begitu besar untukku. Juga atas buku pemberiannya.

Saya jawab di sini saja. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bisa menerima perasaan Aulia. Bukan karena kita belum saling mengenal, juga dalam hati ada perempuan lain. Sesungguhnya tidak. Dirimu sangat cantik dan pintar, akan ada Zikri-Zikri lain yang masuk dalam hidupmu.

Ada alasan mendasar bahwa saya tidak berpacaran.

Ada sisi lain yang Aulia harus pahami, inilah alasan sesungguhnya :

Tertegun. Seketika perutku serasa diaduk-aduk, mual.

Ini pertama dalam hidup aku ditolak seorang pria, biasanya yang terjadi adalah sebaliknya.

Tetapi alasan Zikri yang membuatku ingin muntah. Di bawah kata ‘alasan sesungguhnya’ ada sebuah logo planet Merkurius. Masih melekat dalam pikiranku, artikel tentang kelainan seksual yang kukerjakan untuk tugas kuliah. Logo Merkurius, lambang dua alat kelamin dalam satu tubuh.

Jadi, Zikri punya sisi wanita? Atau tidak mencintai wanita?

Perutku semakin mual. Aku muntah.

.

(Malang, Peb 2018)

 

SHARE
Aku lahir di rerumputan, kelak akan mati di atas sana sebagai daun-daun yang kering..

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here