Tidak Ada Sodomi (LGBT) di Surga

Oke, sebelum bicara soal mampu atau tidakah Indonesia bebas dari LGBT (gerakan legalisasi perkawinan sesama jenis), ada baiknya membahas hal mendasar dulu.

Jadi begini, LGBT adalah produk kaum yang terlalu memuja kebebasan. Padahal kebebasan itu ilusi. Hidup itu lebih banyak mengendalikan diri, tidak melampiaskan diri. Dunia adalah ‘penjara’. Kalau manusia terlalu menghamba pada kebebasan, akhirnya tidak tahu batasannya. Derajatnya pun lebih rendah dari binatang.

Perkawinan sejenis juga melawan kodrat (keseimbangan) alam. Di dalam sebuah keluarga itu adanya ayah, ibu dan anak. Bukan ayah dan ayah. Jadi, jangan heran kalau alam eneg, ngamuk lihat kelakuan menyimpang itu. Belajarlah pada kaumnya Nabi Luth atau penduduk Pompei di Italia.

Jangan dipikir benda mati itu mati. Kalau anda muslim, baca kisah perang Uhud. Saat Rasulullah terkena panah di lehernya dan berlindung di gunung Uhud. Gunung Uhud marah dan minta ijin pada Rasulullah agar diperbolehkan menjatuhkan batu-batunya ke pasukan musuh. Tapi Rasulullah mencegahnya, beliau masih berharap di antara mereka selamat dan memiliki keturunan yang beriman.

Jadi, gunung pun bisa marah melihat kelakuan manusia. Kondisi alam Sodom dan Gomora, juga di Pompei sangat rentan bencana. Begitu manusianya tidak menjaga keseimbangan alam, langsung digulung, dikubur hidup-hidup.

Nggak cuman Tuhan yang eneg lihat manusia tusbol berjamaah, alam pun muak. Tuhan masih bisa ngempet nahan marah, karena cintaNya mendahului murkaNya. Tapi alam nggak bisa. Gunung, laut, hutan adalah bala tentara Tuhan. Kalau kita terus-terusan melawan kodrat alam (tidak menjaga keseimbangan), jangan mewek kalau bencana terus terjadi.

Tapi, bencana alam tidak selalu berarti azab. Ada kalanya itu ujian. Gunakan akal pikiranmu jika bencana alam melanda, apa itu azab ataukah ujian semata. Jika di daerah bencana lebih banyak manusia bejatnya bisa dipastikan bahwa itu azab. Jika lebih banyak orang baiknya, bisa jadi itu ujian. Tapi yang lebih baik adalah berbaik sangka pada Tuhan.

Saya adalah fans berat musisi rock macam Freddie Mercury atau Rob Halford. Tapi tidak berarti saya mendukung kehomoan mereka. Enggak lah. Saya hanya salut pada karya musiknya, sekaligus kagum dengan karunia Tuhan yang diberikan padanya, bakat yang tidak semua orang dapat.

Kehidupan seks seseorang itu urusan pribadi dia dengan Tuhannya. Lha lapo aku ngurusi raimu. Kita sama-sama dewasa, sudah sama-sama paham soal hitam putihnya kehidupan. Aku nggak perduli jika pun mereka kawin sama kambing. Tapi kalau aku disuruh mendukung gerakan yang melegalkan itu, ya sori mas bro, no way!

LGBT said : “I’m gay, I’m lesbian, I’m bisexual, I’m transgender, I’m like you, I’m human.”
I said : “No dude! I’m not like you. Cos I have God and you don’t!”
Tuhan melarang manusia melakukan hubungan sesama jenis, kecuali mereka bertuhan pada nafsu.

Cinta kita kepada makhluk itu harusnya di dalam cinta kita kepada Tuhan. Tapi mereka yang kawin dengan sesama jenis itu telah ‘membunuh’ Tuhan di dalam hati mereka. Mereka percaya Tuhan, tapi melakukan sesuatu yang dibenciNya.

Di dunia Barat, cinta sudah kehilangan makna. Jangan terkecoh dengan jargon “Love is Love” yang disuarakan gerakan LGBT. ‘Love’ di sana itu orientasinya seks. Definisi ‘making love’ itu bukan bercinta, tapi ngeseks. Padahal bercinta itu bukan persetubuhan, tapi interaksi sosial yang melibatkan cinta, baik cinta antar pria dan wanita maupun cinta yang universal. Ketika dua orang ngobrol dengan penuh cinta itu bisa disebut bercinta.

Jadi, jargon “love is love” yang digembar-gemborkan oleh LGBT itu sebenarnya “sex is sex”. Menghalalkan ngeseks dengan siapa pun dan apa pun.

Jangan salah paham, saya tidak membenci manusianya, saya hanya tidak mendukung gerakannya. LGBT itu gerakan yang menuntut legalisasi perkawinan sejenis. Sedangkan hombreng, lesbon, waria itu manusianya. Itu lain perkara. Saya bukan Homophobia.

Silakan saja jika kamu mendukung LGBT, kita tetap bisa berteman. Aku bisa berteman dengan iblis, tanpa harus jadi iblis. Jika pun kau seorang Warok yang ngoleksi Gemblak, itu urusan pribadimu dengan Tuhanmu. Manusia tidak punya hak memerintah orang lain kembali ke jalan yang benar. Bisanya hanya mengajak dan mengingatkan. Hidayah 100% kuasa Tuhan.

Soal akidah, Tuhan sangat liberal (membebaskan) : mau beriman silakan, mau mbalelo juga monggo. Tuhan tidak pernah rugi jika manusia yang ada di bumi ini bajingan semua. Tapi kalau kamu ingin selamat di dunia maupun akhirat, belajarlah dari kesalahan masa lalu. Baik kesalahan sendiri maupun kesalahan orang lain.

Kaumnya Nabi Luth di Sodom dan Gomora diazab sangat pedih, dikubur hidup-hidup dalam sebuah gempa bumi yang dahsyat jaya karena tusbol berjamaah. Dan kamu sekarang dengan pede-nya mendukung (membenarkan) sepenuh hati ‘reinkarnasi’ kaumnya Nabi Luth itu.

Bagi ateis, kisah Sodom dan Gomora pasti kau anggap dongeng belaka. Baiklah, sekarang baca kisah penduduk Pompei di Itali, surga dunia bagi mereka yang berperilaku seks menyimpang. Dengan sekejapan mata mereka terkubur hidup-hidup oleh letusan Gunung Vesuvius. Mayat mereka yang berlapis lava masih utuh dalam posisi sedang bersetubuh.

Mayat mereka sengaja dibuat utuh untuk dijadikan peringatan buat kita. Kalau ingin selamat dunia akhirat jagalah kelaminmu. Tidak ada satu pun agama yang membenarkan perkawinan sesama jenis. Tanyakan pada Ulama, Ustadz, Pastur, Biksu, Shaolin.., mereka nggak akan pernah membenarkan sodomi. Di surga tidak ada sodomi!

Di saat tertentu, agama itu sangat kaku. Kalau aturannya begini ya harus begini. Kalau dilarang sodomi, ya jangan sodomi. Jadikan itu perjuanganmu. Manusia jadi hebat karena bisa mengendalikan keinginan yang amat sangat. Kalau nggak tahan juga, masih ada fenomena aseksual, solo seks bin onani. Jadikan itu benteng pertahanan terakhir. Semoga Tuhan memaklumi. Amin.

Lupakan soal hak asasi. Hak asasi manusia itu omong kosong. Hanya Tuhan yang punya hak. Manusia hanya punya kewajiban. Satu-satunya hak manusia adalah memilih pemimpin. Manusia punya hak karena kontribusinya pada masyarakat. Kalau nggak pernah berkontribusi, dia nggak punya hak apa-apa. Jadi harusnya bukan Hak Asasi Manusia­­, tapi Wajib Asasi Manusia.

Hak asasi itu benar-benar menenggelamkan akal dan iman manusia. Atas nama hak asasi, manusia dilegalkan kawin sesama jenis, bahkan kawin sama kambing pun bisa dilegalkan. Jadi, Hak Asasi Manusia itu sebenarnya menyesatkan.

Mendukung LGBT karena menerapkan ajaran kasih itu juga salah kaprah. Ajaran kasih itu bagus. Semua agama mengajarkan kasih sayang. Ajaran kasih itu mengasihi manusianya, bukan membenarkan kesalahannya. Bagaimana bisa kau mendukung gerakan yang melegalkan perkawinan sesama jenis, sedangan kau tahu bahwa sodomi itu dilaknat Tuhan?

Seorang pengacara mendampingi koruptor itu dalam rangka menemani hatinya dan mencari hal yang bisa meringankan hukumannya. Itu ajaran kasih. Bukan mencari-cari alibi agar si koruptor terbebas dari hukuman. Itu namanya pengacara bajingan.

Jadi sekarang kalau ditanya mampukah Indonesia bebas LGBT? Pasti mampu, selama agama masih menjadikan prioritas utama dalam hidup berbangsa. Gerakan LGBT itu eksis karena tidak menjadikan agama sebagai prioritas utama dalam hidup berbangsa, melainkan nafsu atau kebebasan individu.

Yang aku tulis ini soal keyakinan agama, bukan soal ilmiah. Agama itu soal ghaib. Saya tidak sedang bicara soal ilmiah. Menolak gerakan legalisasi perkawinan sejenis nggak pakai ilmiah-ilmiahan pun bisa. Cukup pakai akal atau logika yang disertai iman. Dan secangkir kopi.

Sori, saya bukan orang alim atau agamis. Apa pun bahasannya pasti kembali ke soal agama. Semua yang kita bahas sehari-hari itu soal agama. Apa itu soal politik, sosial, olahraga, kuliner, seni. Agama mencakup semuanya, tidak hanya soal dalil dan ayat.

Saya bicara begini nggak ada hubungannya dengan intoleran atau rasis. Ini soal komitmen pada ajaran agama saya (Islam). Keterlaluan kalau ada seorang muslim yang mendukung, membenarkan dan atau melegalisasi perkawinan sesama jenis. Sungguh terwelu.

Tuhan mana yang membolehkan perkawinan sejenis? Nggak ada. Ajaran Yesus, ajaran Muhammad, ajaran Budha, ajaran agama mana pun melarang itu. Jadi, gerakan legalisasi perkawinan sejenis (LGBT) itu sama dengan gerakan melawan Tuhan. Tuhan dipaksa maklum dengan kehidupan seks menyimpang mereka. Memangnya Tuhan itu buapakmu!? Gile lu ndro.

-Robbi Gandamana-

10 COMMENTS

  1. Persoalanya, jngn mnutup mata Om Robbi, di sekitar kita nyata adanya “jiwa yg tertukar” apakah ini ada pemakluman sbagai takdir atau tdak ada opsi lain selain “binasakan?

    Btw, ulasanya saya sepakat, keren khas Om Robbi. Lanjutkan, salah baik.

    • semua penyakit bisa disembuhkan kecuali pikun…..bagiku (dan menurut sumber yg aku baca) waria, homo, lesbi itu penyakit psikis sebenarnya bisa disembuhkan kalau mereka benar2 ingin sembuh….kesembuhan terletak pada kemauan mereka sendiri…..mereka bukan berkelamin ganda lho ya..

      matur nuwun

      • Ulasannya sangat menarik..
        Dalam agama juga diatur mas, tentang Khunza. Diatur mengenai cara beribadah nya. Karena Agama mengatur cara beribadah dengan Tuhannya. Tapi LGBT sekarang bukan menuntut masalah agama, tapi mereka lebih menuntut perilaku seks mereka. Dalam agama juga diatur untuk perilaku seks, sebelum menikah dikatakan zina.. jadi udah salah disini. Daripada berujung pada masalah perdebatan, sebaiknya disarankan kepada mereka untuk belajar memahami agama dulu, dan cara beribadah..
        http://gunungmatcincang.blogspot.co.id/2011/11/apa-itu-khunza.html
        Sembah nuwun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here