Gendam

roberto bonini.com

Pagi itu Hesti bergegas menuju ke counter kosmetik yang berada di sebuah Mall di kotanya. Malam tadi Hesti baru menginap di rumah salah seorang sahabatnya, mereka bercerita-cerita hingga dini hari, sehingga paginya mereka terlambat bangun. Mall sudah ramai benar ketika Hesti sampai di Mall tempatnya berjualan itu. Maklumlah hari itu hari libur, hari minggu dan menjelang ramandhan pula. Mall penuh sesak pengunjung sampai di pelatarannya.

Karena sudah kesiangan hesti tergesa-gesa menuju tangga Escalator, untuk menuju lantai 2 Mall dimana counternya berada. Sebelum naik ke tangga tiba-tiba seorang laki-laki berperawakan agak gemuk dan pendek menghampirinya. Menepuk pundaknya, sambil berkata : “Mbak! Maaf menggangu, saya mau tanya? kalau mau ke Yogya, saya harus naik apa ya?”

Walau sudah tergesa-gesa Hesti mengurungkan diri menaiki tangga escalator untuk menjawab pertanyaan laki-laki tersebut. Dahinya agak berkeru. Berpkir sejenak, kok aneh ini orang ada di kota Kudus, kenapa kok tanya mau ke Yogyakarta ya? Jauh amat, tapi kemudian timbul rasa iba dan penasarannya, sehingga membuatnya menyurutkan langkah menuju tempatnya berjualan.

” Yogya! Jauh dari sini Pak. Memang bapak dari mana? Ini kan di Kudus, jauh kalau mau ke Yogya, harus ke Semarang dulu, dari sini naik angkot ke terminal, dari terminal naik bis ke Semarang, nanti dari Semarang naik aja bis ke Yogya…..” Jelas Hesti sambil menunjuk angkot yang lewat di depan Mall  menuju terminal bis.

Setelah memberi penjelasan walau agak penasaran juga, siapa dan kenapa bapak itu bisa sampai Kudus  kalau mau ke Yogya, namun karena sudah kesiangan dan dia harus segera membuka counternya yang ada di dalam Mall maka rasa penasarannya dikesampingkan, dan melanjutkan langkahnya menuju tangga escalator.

Namun belum juga kakinya melangkah, seorang laki-laki lain yang membawa tas belanjaan dari mall tersebut menghampirinya.

“Ada apa sih Mbak? ”

Terpaksa Hesti mengurungkan langkahnya kembali untuk menerangkan pertanyaan bapak tersebut, siapa tahu laki-laki itu bisa mengantarkan atau memberi penjelasan yang lebih rinci kepada bapak yang pertama tadi, dan dia bisa melanjutkan langkah untuk berjualan.

“Bapak ini mau ke Yogya, Mas! Tapi nyasar sampai Kudus, tolong jelaskan Mas! Saya mau jualan…” kata Hesti tergesa-gesa sambil meneruskan langkahnya, belum sampai naik ke tangga, laki-laki itu bertanya pada Bapak itu. “Memang  mau ke Yogya mau kemana Pak….” tanya laki-laki itu.

“Saya dari Kalimantan mau ke Museum di  Yogyakarta,  untuk mengembalikan kitab warisan kakek buyut saya ke museum sesuai dengan amanah beliau sebelum meninggal.”

Kata-kata itu masih jelas terdengar di telinga Hesti sehingga menyurutkan langkahnya, membuatnya penasaran ada kata museum dan kitab warisan. Dua hal yang pernah menarik perhatiannya pada waktu kuliah dulu. Dan juga kata Kalimantan mengingatkan pada adiknya yang sedang merantau disana,  hal itu membuatnya ingin menolong bapak itu.

Hesti segera berbalik arah mendekati bapak dan laki-laki itu. Rasa penasarannya bertambah menjadi-jadi ketika laki-laki itu berkata: ” Wah, boleh saya lihat Pak! Mbak gak ingin tahu apa dengan yang  dibawa bapak ini, seperti apa sih Pak ? ”

Tentu saja Hesti sangat penasaran. “Iya. Mas, saya juga pingin lihat. Boleh Pak, kami melihatnya sebentar.” Pertanyaan Hesti pada bapak itu.

“Boleh Mbak! Tapi disini ramai, rawan! Karena kitab yang saya bawa ini mempunyai nilai tinggi….saya takut membukanya di tempat umum…nanti ada orang yang bermaksud tidak baik..”

“Waah…di sebelah mall ini ada Rumah Sakit Pak…mungkin disana agak sepi…bisa kita kesana…ayo mbak ikut nggak….” kata laki-laki tersebut.

“Iya..Pak…tapi saya mau naik sebentar naruh tas saya ini ke laci counter tempat saya jualan di atas…”

“Gak..usah mbak…sebentar saja..saya tergesa-gesa kok…” ujar bapak itu.

“Oke…pak saya ikut sebentar…” kata Hesti sambil mengikuti kedua laki-laki itu yang sudah berjalan di depannya.

Diperjalanan menuju Rumah Sakit Hesti berpikir kenapa harus ke Rumah Sakit ya….kan di depan itu ada sebuah Rumah Makan yang agak sepi …apa gak lebih baik kesana aja ya… “Pak…jangan di rumah Sakit deh Pak….kan lebih baik kita ke Rumah Makan di depan sana….yang sepi dan nyaman lebih leluasa……”pinta Hesti seolah sudah tak ingat akan counternya lagi.

“Iya..mbak..klo mbak menginginkan kita ke Rumah Makan lebih baik kita kesana aja……biar kita bisa sambil minum-minum..”

Tak lama kemudian mereka sudah berada di Rumah Makan  yang ada di depan Rumah Sakit. Mereka langsung memesan minuman,  Hesti memesan Es Teller kesukaannya.

“Begini ya …Mbak…Mas….sebelum saya membuka kitab ini maukah kita berdoa sebentar karena kitab ini sangat mengandung magis….” Bapak itu memulai aksinya.

Namun belum selesai Hesti membaca doa apa-apa, bapak itu sudah bilang amin…selesai.

“Selanjutnya maukah Mas dan Mbak…berjanji tidak akan menceritakan pada seorangpun kalau sudah pernah melihat kitab ini….karena nanti setelah melihat kitab ini kalian akan mempunyai kesaktian…bahkan bisa menolong orang yang sakit…” sambung bapak itu.

“Waaah…..kita beruntung sekali Mbak….bisa diberi kesempatan melihat kitab yang sangat banyak kesaktiannya ini…..Pak maaf…kalau kitab itu tidak usah dikembalikan ke Museum tapi biar untuk saya saja gimana….saya sanggup membayar berapa pun yang bapak minta..kok..” ujar lelaki  muda itu menimpali.

“Maaf..Mas..saya tidak ingin menjual belikan kitab ini…karena kitab ini nilainya tak mungkin terjangkau oleh kita…” jawab bapak itu. Lalu bapak itu memandang Hesti dengan seksama. “Saya malah cenderung ingin mengamanatkan kitab ini pada Mbak nya ini….karena saya lebih percaya pada mbak ini sehingga akan lebih banyak menolong orang….karena saya lihat mbak  hatinya yang lebih bersih….namun sayang….sepertinya mbak ini…ada sesuatu di dalam tubuhnya….mungkin telah ada orang yang mengguna- gunai mbak….coba mbak matanya dipejamkan..telapak tangannya dibuka….” ,

Bapak itu terus saja melancarkan aksinya tanpa disadari Hesti. Hesti hanya menurut saja kata-kata bapak itu dengan membuka telapak tangannya. “Maaf…mbak..ternyata dugaan saya benar…coba mata mbak dipejamkan saya ingin mengambil sesuatu yang ada dalam tubuh mbak..melalui ujung cari mbak..”

“Iya..Pak terima kasih padahal..saya gak merasa punya musuh looh…mosok ada yang jahat kesaya memasang sesuatu di tubuh saya…” jawab Hesti menerangkannya.

“Mbak….kita jangan percaya begitu saja pada bapak ini…coba kalau memang dia sakti sebaiknya bapak ini kita uji terlebih dulu Mbak……” bisik lelaki yang muda itu ke arahku ketika tiba-tiba bapak itu berdiri agak menjauh.

“Bapaknya suruh nebak….uang lima puluh ribuan ini genggam tangan kanan dan uang sepuluh ribuan ini gemggam tangan kiri…coba nanti bapaknya suruh nebak….” setelah bapaknya mendekat tiba-tiba bapak itu bilang kalau tangan kanan Hesti ada uang Lima puluh ribuan dan tangan kirinya pegang uang sepuluh ribuan.

Hesti masih belum mengerti juga permainan dua lelaki yang baru dikenalnya itu. Tapi nalarnya tak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

“Mbak….sepertinya ada seseorang yang sedang mengguna-gunai mbak….kalau mbak gak percaya biar saya obati….mungkin ada sesuatu yang ditanam dalam tubuh mbak…” Hesti masih belum mengerti kok tiba-tiba bapak itu bilang begitu, tapi Hesti nurut saja apa perintah kedua laki-laki itu.

“Coba  mbak..pejamkan matanya sebentar…ulurkan ibujarinya ya….” Hesti hanya mengikuti perintah itu. “Sudah mbak..buka matanya …ini saya mengeluarkan sebuah paku dari ibujari Mbak….” meski tak percaya Hesti sempat terkejut juga…mosok sih ada paku di tubuhku….tapi belum sempat berpikir panjang bapak itu sudah terus melancarkan aksinya. “Begini mbak….saya percaya pada mbak…kitab pusaka ini mau saya kasihkan sama mbak….tapi saya harap tubuh dan harta mbak bersih, tadi saya sudah membersihkan tubuh mbak..dengan mengambil paku dari tubuh mbak..sekarang mbak tinggal membersihkan harta benda mbak…” belum selesai Hesti mengerti kata-kata bapak itu, laki-laki yang muda itu mengeluarkan semua uangnya dari dompet, bukan itu saja HP dan juga cintin batunya pun diserahkan pada bapak itu… ” Saya juga ingin membersihkan harta benda saya pak…tolong harta benda saya ini dibersihkan dan didoakan ya…..mbak apa gak ingin harta bendanya bersih to…”

Hesti sempat melonggo tak mengerti tapi dia segera meniru tindakan laki-laki itu dengan menyerahkan uang yang ada di dompetnya, padahal dia ingat kalau uang itu akan digunakan untuk membayar gaji bulanan 2 karyawannya.

Tapi belum sempat berpikir panjang bapak itu berkata : “Mbak..jangan kuatir ini hanya saya bersihkan, saya doakan saja nanti saya kembalikan….”

“Mbak..mosok hanya uang saja…itu mbak pakai kalung, anting dan juga cincin …….kasihkan aja mbak biar dibersihkan bapaknya…” lagi-lagi Hesti belum bisa berpikir panjang tapi hanya menurut saja mencopoti semua perhiasan yang ia gunakan dan memberikannya pada bapak itu.

“Mbak…lah itu HP nya gak dikasihkan….mbak pasti punya ATM juga kan ..kasihkan aja mbak..biar harta benda kita bersih…” tanpa bisa berpikir panjang Hesti hanya menurut aja memberikan HP dan ATM harta bendanya terakhir yang masih ada semua diberikan pada bapak itu.

“Mbak….ngasih ATM kok gak sekalian PIN-nya kan nanti susah mendoakannya…” Hesti pun segera mengambil kertas dan pulpen dan menuliskan PIN 2 ATM-nya  dan memberikanya pada bapak itu..

“Jangan kawatir mbak..saya hanya ingin mendoakan saja….” kata bapak itu setelah melihat ada keraguan di wajah Hesti. Hesti masih berpikir akan didoakan saat itu juga dan segera semua di kembalikan, tapi ternyata..

” Mbak…ini saya  tidak bisa konsentrasi kalau berdoa di sini …harus di pondok ….ini saya bawa dulu ya…nanti kalau sudah selesai didoakan akan saya kembalikan ke rumah mbak…” ” Iya..mbak..jangan kawatir nanti sama saya mengembalikannya…barang-barang saya juga dibawa bapaknya kok…” laki-laki muda itu menyakinkan Hesti.

” Tolong tulis nama , alamat dan no telp rumah..ya…biar gampang saya menghubungi mbak..untuk mengembalikan barang-barang ini……” bapak itu berusaha menyakinkan  agar tak perlu kwuatir dengan barang-barang dan uang Hesti. Setelah itu Bapak itu menyerahkan bungkusan kain putih kepada Hesti .

“Ini Mbak….kitab yang saya bawa….sekarang saya lebih mantab menyerahkan kepada mbak daripada mengembalikannya pada Museum, nanti biar saya yang minta ijinkan kepada almarhum kakek saya…..karena kakek saya pasti akan senang bila kitab ini berada di tangan mbak…tolong bukanya nanti saja setelah saya selesai mendoakan harta benda dan mengembalikannya pada mbak ya….”

” Waaah..mbak beruntung sekali…saya sebenarnya yang ingin merawat kitab itu…tapi ternyata bapak itu lebih memilih mbak…..selamat ya Mbak….” kata laki-laki muda itu untuk lebih menyakinkan saya.

“Sudah…ya mbak…saya harus segera ke masjid untuk mendoakan barang-barang mbak ini….” Bapak itu sudah ingin mengakhiri aksinya.

“Pondoknya di mana Pak…saya ikut… biar nanti bapak tak usah mengantar ke tempat saya ….saya menunggu saja ya….” pinta Hesti.

“Gak usah mbak…..pondoknya jauh…..nanti aja kalau sudah selesai saya akan ke rumah mbak ….” sambil mereka berjalan keluar dari rumah makan.

“Mbak..langsung pulang saja ya…gak usah jualan dulu……dan jangan cerita siapa-siapa ya di rumah nanti….” kata bapak itu tadi sambil memanggil becak yang ada di depan rumah makan itu.

Hati Hesti senang sekali karena bapak itu memberinya uang duapuluh ribu untuk membayar becak itu. Hesti jadi ingat kalau di dompetnya sudah gak ada uang lagi. Semua sudah diberikan kepada bapak itu, termasuk HP yang baru dibelinya kemarin sore, dan sepasang anting berlian dan cincin berlian.

Aah….biar sajalah toh ntar sore dikembalikan, hanya didoakan saja kok……tapi apa bener ya….pikirannya kacau antara percaya atau tidaknya janji bapak itu.

Sesampainya di rumah Hesti langsung membersihkan diri dan masuk kamar. Kacau banget pikirannya, namun seperti kata bapak tadi Hesti harus diam aja di kamar dan tidak menceriterakan pada siapa pun tentang peristiwa ini. Dia hanya menunggu sore dan malam , seperti janjinya bapak itu akan datang memberikan semua barang-barangnya yang sudah didoakan .

Malam tiba sudah….tapi tak ada tamu satu pun, Hesti bertanya apa ada tamu yang mencarinya, kakaknya bilang tak ada siapa-siapa. Sampai jam 9 malam telpon rumahnya berbunyi, Hesti segera bergegas, itu pasti bapak yang tadi pikirnya.

“Halo….ini Mbak Hesti ya….begini mbak…saya tidak bisa datang malam ini..tapi besok saya akan datang…..tapi begini mbak…untuk membersihkan harta mbak ini…mbak harus memberi donatur pada Panti Asuhan sebesar 20 juta…segera di transfer ya mbak…..ini syarat untuk membersihkan dan mendoakan mbak looh…”

“Tapi saya saat ini gak punya uang lagi pak kan ATM saya ada di bapak….”

“Pokoknya segera ditransfer ke rekening mbak sendiri yang ATM-nya saya bawa ini….saya yakin besok pagi mbak bisa mengusahakannya..kalau mbak ingin selamat….” nada bapak disana sudah mulai mengancam juga.

Setelah menerima telpon itu, Hesti berpikir kepada siapa hendak meminjam uang itu ya…toh nanti bila barang-barang dan ATM-nya sudah dikembalikan bapak itu dia aka segera mengembalikan juga.

Namun beberapa teman dan saudara yang dia telpon hendak dipinjami uang malah jadi terheran-heran, buat apa Hesti sampai pinjem-pinjem uang segala.

Sampai esok siangnya bapak itu telpon lagi. “Mbak…kenapa uangnya belum di tansfer juga…..saya jadi tidak bisa membersihkan harta mbak…dan belum bisa mengembalikannya….” kilah bapak itu sambil terus memojokkan Hesti agar mau segera mengirim uang ke rekeningnya.

Karena waktu sudah sore dan bapak itu tak ada juga datang, akhirnya Hesti menceriterakan kejadian ini kepada kakaknya.

“Apa !!!!!…..kamu kena gendam itu…gak mungkin orang itu mengembalikan barang-barangmu…..malah mau minta uang tambah  ..pula, sudah jangan ditransfer uang lagi..” kata kakak Hesti kaget dengan peristiwa yang dialami adiknya.

Hesti kaget setengah tak percaya..bahwa apa yang dialami adalah gendam. Berarti semua barang-barangnya sudah tak mungkin kembali.

Lemas badannya, dia ingat uang yang ia berikan kemarin itu adalah uang untuk membayar 2 karyawannya yang harusnya dia berikan kemarin. Dari mana dia akan mendapat uang secepat ini, pasti 2 karyawannya sudah menunggu

Belum lagi uang di ATM-nya yang merupakan uang cadangan untuk membeli barang-barang dagangannya. HP  kesayangan yang baru dibelinya, dan perhiasan yang penuh kenangan. Semua hilang sudah…..lemes badan Hesti.

Namun bagaimanapun Hesti masih bersyukur hanya hartanya saja yang hilang, orang itu tidak sampai menciderai tubuhnya.

Pelajaran penting bisa dipetik dari peristiwa yang dialaminya. Semoga ini bisa benar-benar membersihkan hartanya di depan Tuhan, itu saja harapan Hesti, daripada kecewa terlalu dalam.

 

Kudus.

‘salam fiksi’

Dinda Pertiwi

 

Latest posts by Dinda Pertiwi (see all)

Rate this article!
Gendam,5 / 5 ( 1votes )
Tags:

2 Responses

  1. author

    Sri Subekti Astadi2 weeks ago

    Yaaa

    Reply
  2. author

    Manula Sepuh2 days ago

    Hesti ini semoga bukan Din Pertiwi.
    Hati2 penipuan dan hypnotis mulai marak.

    Reply

Leave a Reply