Sekolah Ngawur Merajut Kebhinekaan

 

Sekolah Ngawur Merajut Kebhinekaan

Ngawursiana.com- Di sebuah kelas di sekolah Ngawur namanya, berdiri di depan kelas Pak Poli sebagai guru Bahasa Indonesia
Poli: “Anak-anak, hari ini kita belajar mengenai peribahasa. Saya akan memulai satu kaliannanti melanjutkannya.”
Siswa: “Setujuuuuuuu…….” biar koor anak-anak kalau girang.
Poli: “ Pagar makan tanaman, artinya apa dulu sebelum dilanjutkan…”
Meli: “Seharusnya mengamankan malah membuat bahaya atau malah musnah Pak…”
Poli: “Bagus Meli, ada yang melanjutkan?” tanyanya dengan cerdik.
Bedu: “Musang menjaga ayam Pak”….

“Bagai serigala berbulu domba Pak….”
Poli tahu ini gak tepat benar, biar dulu….
Belu: “Bak FPI merajut Kebhinekaan Pak…..”
Makin jauh saja ini…..
Badi: “Bagai paedofil diminta jadi pengasuh anak-anak Pak….”

“Pak-Pak, seperti DPR mau mengawasi KPK,”

Makin jauh saja anak-anak ini….

Jaci Kumaro anak keturunan Jepang menjawab dengan sedikit cadel…..
“Seperti Pebriani diminta menjadi sales celana Pak, celananya ikut dipajang dan dijual….. “

Kelas makin bergemuruh karena ngawurnya makin jauh, Poli masih memberikan ruang sebelum nanti memberikan pemahaman dan penjelasan yang lebih tepat. Anak-anak tidak patut dimatikan kreatifitasnya, namun perlu dibenarkan agar tidak mengikuti idola remaja residivis, pelaku chatt mesum, buron dalam berbagai kasus lagi. Ini nanti perlu diluruskan.
Pebriani panas juga dijadikan obyek Jaci….

Peb.: ” Aku Pak….”
Poli: “ Saya Pak, Peb, bukan aku…..”
Peb.: “ Iya Pak, maksudnya saya….
Poli: “ Silakan Nak…..”
Peb.:” Bagai Jaci diminta menjadi menkominfo Pak….”
Poli: “ Apa maknanya? “
Peb. : “Diminta jadi penjaga konten pornografi agar tidak makin marak, malah menyukainya, katanya untuk ngetes Pak…..”
Poli: “ Ini kelas bahasa, bukan kelas politik, mau nanti Bapak dipersekusi oleh FPI?”
Namanya anak-anak malah tertawa terbahak-bahak…
Siswa: “FPI tak ada nyali Pak, bosnya kabur…..”
Poli: “Nak kalian kritis boleh, tapi ada batasnya, apalagi sampai menyebarkan kebohongan, jangan ya. Seperti hari ini, memang tidak salah apa yang kalian ungkapkan, tapi tidak tepat. Tidak salah, hanya kurang pas saja. Itu peribahasa populer yang diciptakan sesaat dala keadaan tertentu, bukan yang sebenarnya.

Teeet….teet……
Siswa: “Siang Pak….”
Semua lari menuju kantin dan WC…..tinggal Pak Poli geleng-geleng kaki saking pusingnya menghadapi anak-anak remaja yang banyak akal itu. Salah langkah bahaya, tidak diberi tahu bisa tersesat, diperingatkan dengan cara lama bisa malah mereka meradang.

Salam Ngawur

Gambar: Kompasiana

Rate this article!
Tags:

10 Responses

  1. author

    Suyono Apol3 months ago

    Pagar makan tanaman, musang menjaga kandang ayam, ternyata banyak contohnya… 😢

    Reply
    • author

      Susy Haryawan3 months ago

      fpi menjaga bhineka tunggal ika, dpr menjaga KPK, he…he…

      Reply
  2. author

    Manula Sepuh3 months ago

    Penyebab boss FPI kaboor karena takut anggotanya sendiri kok.
    Kan tugasnya antara lain memberantas maksiat, miras, warung remang2, porno-aksi yg paling getol di sweeping dan digrebek laskar itu.
    Lha engga pulang kuatir anak buah nya mengeksekusi ketuanya gimana jadinya donk.
    Kalo sama Polisi dan hukum mah engga takut, (katanya).
    Jan ngawur tenan iki.

    Reply
    • author

      Susy Haryawan3 months ago

      Takut disweeping munarwan n khawatir pada ngikut dg alasan sesuai titah junjungan

      Reply
      • author

        Manula Sepuh3 months ago

        Betool, takut sama Firza Husein juga, janji2 nikahin malah buron.
        Mana sudah main bugil2an hitu, kan rugi bandar.

        Tidak takut sama umat loh, takut sama anak buah sendiri.

        Reply
  3. author

    Hery Syofyan3 months ago

    Saya suka jaaban……Bak FPI “merjut kebinekaan” kata Anis…ha..ha dan “DPR ngawasin KPK” …….ha..ha

    Reply
  4. author

    Ronald Wan3 months ago

    Bukan mabur boss, hijrah hehehe

    Reply

Leave a Reply