Wisata Ala Bolang, dari Machete, BFG hingga Kandang Sapi

dokpri

Ngawursiana.com-Dolan bareng bersama Bolang itu selalu seru. Selalu ada hal-hal yang baru. Seperti Sabtu kemarin, 05 Agustus 2017, Bolang memenuhi undangan khusus Mbak Eren, di Cafe Machete, daerah Oro-oro Ombo, Batu, Malang.

Menikmati minuman hangat dan makanan suguhan ala Cafe Machete di antara deretan hutan pinus, sungguh terasa begitu nikmat. Bapak-bapak Bolang menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama suami Mbak Eren selaku tuan rumah sekaligus pengelola Cafe Mchette. Sedang Emak-emak Bolang, asyik menikmati keindahan alam sembari berbagi cerita.

Cafe Machete masih satu wilayah dengan wahana wisata Batu Flower Garden (BFG) dan air terjun Coban Rais. Jadi belum lengkap rasanya kalau kita tidak mampir sekalian mengunjungi kedua wahana tersebut.

Batu Flower Garden di atas bukit. Dokpri

Usai jeprat-jeprit sana sini untuk dokumentasi, Bolang masih memiliki satu agenda lagi, yakni berwisata ke kandang sapi. Loh, kok? Begitulah, Bolang memang seperti itu. Bagi Bolang berwisata tidak harus ke tempat-tempat bagus dan modern. Bolang memiliki misi, dolan tidak sekadar dolanan dan mbolang harus mendapatkan sesuatu yang bermanfaat serta menginspirasi.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Bolang mengakhiri kunjungan di Machete untuk melanjutkan perjalanan menuju Dusun Brau, Pujon, Batu-Malang. Di mana sahabat-sahabat sapi sudah menunggu.

Matahari semakin condong ke barat ketika mobil Pak Yunus meluncur menuju lokasi. Udara mulai terasa dingin menggigit, maklumlah daerah yang kami kunjungi dikitari oleh lembah dan bukit.

Namun begitu Bolang tetap bersemangat.

Rasa dingin dan lelah terobati begitu kami sampai di tempat tujuan. Dipandu langsung oleh Ketua Koperasi Susu Dusun Brau, Bapak Munir, Bolang berkesempatan menyaksikan proses pemerahan susu sapi yang dilakukan oleh keluarga Bapak Sahut, warga Dusun Brau.

dokpri

Meski harus menginjak-injak kotoran sapi yang lumayan empuk dan kenyal, Bolang tidak gentar. Maju terus pantang mundur. Mengulik banyak hal seputar kehidupan peternak sapi yang masih menggunakan cara-cara tradisional.

Penulis termasuk orang yang tanpa malu-malu tuk bertanya. Dan inilah transkip percakapan antara saya [p] dan Bapak Munir [BM] ketua koperasi susu di senja itu.

P :“Pak Munir, apakah sapi perah tidak boleh hamil?”

BM: “Justru harus hamil, Mbak. Mereka seperti manusia. Saat hamil itulah produksi susu meningkat.”

P :”Lalu sampai usia kehamilan berapa bulan sapi perah harus rehat, maksud saya tidak diperah?”

BM :”Pada usia kehamilan bulan ketujuh sampai melahirkan. Pasca melahirkan, barulah pemerahan dilakukan lagi.”

Mendengar penjelasan beliau saya manggut-manggut. Tapi masih ada satu pertanyaan lagi yang sejak tadi mengganjal pikiran saya.

P :”Pak Munir, apakah baby sapi disusui langsung oleh induknya?”

BM :”Tentu saja tidak, Mbak. Bayinya kita jatah. Sehari sekitar dua liter. Sisanya untuk dikirim ke koperasi. Kalau bayinya dibiarkan menyusu, bisa dihabiskan stok susu induknya.”

Kali ini saya tidak manggut-manggut. Entah mengapa dalam pikiran saya terbayang wajah memelas bayi sapi yang tidak bisa bermanja-manja menggelendot menyusu pada induknya. Duh, kenapa harus dijatah, ya….hiks.

Puas bertanya ini- itu soal sapi perahan, Bolang dijamu oleh tuan rumah dengan suguhan susu murni yang baru saja diperah. Susu itu bisa diminum langsung atau dimasak terlebih dulu. Saya memilih susu yang dimasak karena saya sedang butuh yang hangat-hangat untuk mengusir udara dingin.

Di atas kompor yang menggunakan biogas hasil olahan limbah kotoran sapi, Bolang memasak susu sendiri. Suasana ndeso sungguh sangat terasa. Menikmati susu panas di pojok dapur tradisonal, berbaur dengan asap tungku yang meski ada kompor gas, tetap tidak bisa ditinggalkan, sungguh sangat ‘sesuatu’.

Acara minum susu dan ngobrol-ngobrol gayeng harus segera diakhiri. Bapak Munir selaku pemandu menyampaikan kepada Bolang saatnya menyaksikan para peternak sapi menyetor hasil perahan mereka kepada pihak koperasi.
Kantor koperasi susu Dusun Brau, bertempat di kediaman Bapak Munir. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah Bapak Sahut. Hanya berjarak beberapa langkah.

Terlihat kesibukan yang serius. Para penyetor susu berbondong-bondong antre menimbang hasil perolehan susu sore itu. Para petugas tangkas melayani. Ada yang mencatat hasil setoran, ada yang mengukur kadar gizi.

Banyak hal yang bisa Bolang pelajari dari kunjungan hari itu. Semangat kerja para peternak sapi menjadi bahan obrolan dan renungan sepanjang perjalanan pulang. Semangat kerja keras, kesabaran dan ketelatenan adalah tiga hal yang tidak bisa terpisahkan dari para peternak sapi ini. Mulai dari berburu rumput sebagai pakan sapi, hingga merawat dan memerah susu, sungguh bukan pekerjaaan yang mudah. Tidak semua orang bisa melakukannya dan tidak semua orang mau melakukannya.

Hm…pagi ini saat bersantai menikmati segelas susu segar, pikiran saya kembali menerawang. Terbayang wajah-wajah ndeso yang sama sekali tidak jijik berkutat dengan kotoran sapi, tangan-tangan tangkas lelaki dan perempuan menyabit rumput di sepanjang tebing dan berlelah-lelah memanggulnya pulang. Jari-jari terampil yang bergerak lincah saat memerah susu. Juga lenguhan panjang sapi-sapi betina itu usai dilakukan proses pemerahan.
Mooooowww…..

Entah mereka ingin menyampaikan apa. Barangkali hanya pemilik sapi-sapi itu saja yang tahu.

***

Malang, 07 Agustus 2017

Lilik Fatimah Azzahra

Just a simple mother...^_^

Latest posts by Lilik Fatimah Azzahra (see all)

Tags:

17 Responses

  1. author

    DESOL3 months ago

    krupuk e kemarin enak ya mbak…

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Hihihi…iyah say…^_^
      Hayuk kapan ke sana lagiiih…

      Reply
      • author

        DESOL3 months ago

        itu krupuk gadung bukan ya? kok ras e mirip yak

        Reply
  2. author

    Suyono Apol3 months ago

    Kali ini sapi adalah pemeran utamanya…

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Inggih…matur nuwun…

      Reply
  3. author

    Latifa3 months ago

    Wah, sapi jadi lakonnya ya.

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Wah…iya Maurin…gantian…^_^

      Reply
  4. author

    Ronald Wan3 months ago

    Bagaimana pendapat sang Sapi Mbak Lilik, kok nggak ikut diwawancara hehehe peace

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Sapinya nitip salam buat Mas Ronny…^_^
      Makasih mas…

      Reply
  5. author

    mike reyssent3 months ago

    Bun Lilik…
    Senengnya bisa jalan jalan bareng…

    Hanya kasihan anak sapinya yaah…
    Hmmm…

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Iyah Mbak Mike…apa karena kita emak-emak itu yah…^_^
      Met sore mbak…yuk ngupi bareng….

      Reply
  6. author

    Susy Haryawan3 months ago

    keren Mbak, jalan-jalannya
    miris ya obyek wisata napa harus bahasa Inggris, juga restonya?

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Obyek wisata Batu memang banyak pake Bahasa Inggris Mas…cos yang datang kebanyakan bule…takut nyasar kalee ya…^_^
      Machete bukan bahasa asing…itu Bahasa Jawa…singkatan dari makan sambil nyete…
      Eh apa ya nyete?
      Nanya Mbak Eren ah…

      Reply
  7. author

    alina widya3 months ago

    Keren bgtzzz….

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Tq Mbak Alina…^_^

      Reply
  8. author

    Mas Yunus3 months ago

    Macethenya OK. Juga banyak pelajaran saat silaturrakhim ke keluarga perternak (Mbah Sahud). Duh sabarnya mereka, bahagia terpancara rari wajah-wajahnya. Gegara pertanyaan Mbak Lilik, saya baru ngudeng soal perah-memerah susu itu, hehe 🙂

    Reply
    • author

      Lilik Fatimah Azzahra3 months ago

      Inggih Pak Yun…senang Bolang bisa dolan ke sana…^_^
      Sepertinya harus sering-sering mbolang semacam ini Pak…banyak hal yang bisa dipelajari…
      Matur nuwun…sugeng enjing…

      Reply

Leave a Reply