Benarkah Egois Pria Bawaan Sejak Lahir?

www.vemale.com

Ngawursiana.com-Bicara tentang egois, tentu yang terbersit dalam pikiran kita adalah sikap atau perilaku seseorang yang mau menang sendiri, semena-mena, merasa paling pintar, paling benar, lebih mementingkan dirinya sendiri dan bla…bla…bla…

Iseng saya mengadakan poling terhadap teman-teman dekat saya, sekumpulan pria dan wanita yang kebetulan sore itu tengah duduk-duduk santai menikmati kopi. Saya tanyakan kepada mereka, siapa yang paling layak mendapat gelar egois, pria atau wanita? Sebagian teman pria hanya terdiam. Sementara teman-teman wanita menjawab spontan, nyaris berbarengan, “Ya kaum pria-lah! Kan mereka sudah egois sejak lahir!”

Saya tercenung. Mencoba mengaitkan tuduhan sepihak itu dengan curhat salah seorang teman wanita beberapa waktu silam. Teman saya itu, sebut saja namanya Bunga, mengeluhkan tentang hubungannya dengan suami yang sudah tidak harmonis lagi. Ketika saya tanyakan apa sebab, teman saya menjawab, bahwa suaminya ternyata memiliki sifat egois yang tidak bisa ditolelir. Sifatnya itu baru diketahui setelah tahun kesekian pernikahan. Masih menurut teman saya, suaminya kerap berlaku sewenang-wenang, mementingkan diri sendiri, dan selalu merasa dirinya paling benar. Segala kemaunnya harus dituruti dan sulit diingatkan walau sudah jelas-jelas telah berbuat kesalahan.

Tentu saja saya tidak lantas begitu saja menelan apa yang disampaikan oleh teman saya tersebut. Saya menempatkan posisi sebatas sebagai pendengar. Tidak lebih dari itu. Sebab saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Beberapa hari kemudian,  tanpa saya duga, suami teman saya ganti mengeluh kepada saya tentang perilaku istrinya. Menurut dia istrinya adalah wanita ter-egois sedunia. Nah, dari sini lantas saya menyimpulkan, bahwa kedua teman saya tersebut, dua-duanya, sama-sama memiliki sifat egois! Terbukti sudah saling tuduh dan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.

Dampak dari saling mempertahankan keegoisan itu, membuat saya terkejut. Kehidupan rumah tangga teman saya itu akhirnya kandas di tengah jalan.

Ada kisah lain, ini tentang sepupu saya, cowok, masih bujangan. Ia bercerita baru saja putus dari pacarnya. Saya sempat menyayangkan, mengingat sepupu saya ini sudah berkali-kali mengalami putus cinta di tengah jalan. Ketika saya telisik musababnya, sepupu saya menjawab dengan ringan,”Wanita itu mahluk yang sulit dipahami Mbak. Mereka cenderung penuntut dan selalu mengandalkan perasaan. Sedang kaum pria berpikirnya praktis dan logis. Tidak suka hal-hal yang ribet dan lebih mengutamakan skala prioritas. Tapi sayangnya, pemikiran yang demikian oleh kaum wanita dikategorikan ke dalam sifat egois.”

Saya tidak ingin berdebat masalah egois dengan sepupu saya yang satu ini. Sebab saya tahu, ia akan menyanggah dengan kalimat klise yang sudah terlalu sering saya dengar.

“Pria itu terlahir egois karena ia dipersiapkan menjadi imam, Mbak. Keegoisan yang dimiliki diharap mampu menopang kewibawaan.”

Duh, sebenarnya saya ingin memprotes kalimat yang diucapkan sepupu saya itu. Tapi sekali lagi tidak akan ada gunanya berdebat dengan dia.

Hanya yang tertinggal dalam benak saya sampai saat ini adalah, haruskah demi menjadi seorang imam, seorang pemimpin, pria mesti mengedepankan sifat egois? Kalau toh benar sifat egois bawaan sejak lahir, bukankah pria-pria itu bisa belajar mengendalikan diri? Tidak lantas bangga dan membiarkan sifat tersebut tumbuh dengan liar.

Ah, semoga hanya sepupu saya saja yang punya pemikiran ngawur seperti itu.

Sedang Anda, pria yang menyimak tulisan ini, bukan termasuk pria egois bukan?

***

Malang, 02 Agustus 2017

Illustrasi by www.vemale.com

18 COMMENTS

  1. Ismail Marzuki bilang:

    Diciptakan alam pria dan wanita.
    Ditakdirkan para pria berkuasa.
    Adapun wanita, lemah lembut manja.

    Wanita dijajah pria, sejak dulu
    Dijadikan perhiasan sangkar madu

    Namun ada kala pria tak berdaya
    Tekuk lutut disudut kerling wanita.

    • Bijak mengalahkan egois, pria bernalar.
      Harga diri harus dijaga, harkat wanita.
      Menyadari kekeliruan dan minta maaf,
      Biasanya pria lebih mampu.
      Wanita biasanya malu minta maaf?
      Karena setengah gengsi, setengah egois.
      Pria malu minta maaf?
      Itulah egois, sama sekali bukan gengsi.

      Paling utama adalah bisa dan mau mengakui bila memang silaf dan keliru.

  2. Kalo sayaaa seh……

    Malu aaaaah

    Hahahahaha

    Masing masing punyaa sudut pandang berbeda, yang penting pengertian ajaa aaah

    Hahahahah

    • ya…kalo mas Didii mah gitu orangnya….nggak egois…^_^
      Makasih singgahnya Mas…salam blimbing manis…

  3. Baik pria maupun wanita sama-sama berada dalam spektrum yang lebar, mulai dari yang paling pengalah dan murah hati sampai yang paling egois.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here