Berterima Kasih dan Bersyukur: Seringkah Kita Melupakannya?

14
146
pic: dok. pri

Saat itulah saya tersadar. Keinginan orang tua tentang investasi saham membuat saya menemukan pelajaran berharga: mempersiapkan masa depan dan bersyukur. Mempersiapkan masa depan tentunya penting. Menjamin kondisi finansial kita aman di masa depan.

Bersyukur tak kalah pentingnya. Sungguh, saya mensyukuri apa yang saya alami dan miliki. Di saat kebanyakan mahasiswa lain seumuran saya terhimpit masalah ekonomi, entah itu kehabisan uang atau apa, keadaan saya lebih baik dari mereka. Ketika orang tua mereka masih merasa kesulitan membiayai hidup dan kuliah mereka, orang tua saya justru menjamin keamanan finansial di masa kini dan masa depan.

Sewaktu mereka hanya memiliki fasilitas terbatas, baik itu fasilitas penunjang hobi, akses internet yang terbatas, dll, fasilitas saya terpenuhi semuanya. Kemudahan mengakses internet tanpa batas, kelengkapan laptop, printer, dan scanner di rumah, dan dukungan orang tua yang luar biasa terhadap kegiatan akademis dan non akademis yang saya tekuni.

Orang tua saya adalah fasilitator yang sangat baik. Mereka orang tua yang ideal bagi saya. Pemberi kasih sayang, pemberi nafkah, fasilitator, pelindung, teman, bahkan sahabat untuk saya. Perhatian dan kasih sayang dari keluarga serta orang-orang yang saya percayai membuat saya bersyukur.

Bicara tentang bersyukur, terkadang hal ini sering kita lupakan. Terlalu sibuk mengeluh, iri pada orang lain yang lebih kaya dari kita, dan cemburu pada keberhasilan orang lain membuat kita lupa bersyukur. Sesekali melihat ke bawah dan mensyukuri nikmat tak ada ruginya. Justru sangat dianjurkan. Lihat ke atas untuk memotivasi diri dan meraih mimpi, lihat ke bawah untuk mensyukuri keadaan. Tuhan menyukai orang yang bersyukur.

Sama halnya dengan bersyukur, berterima kasih pun sesuatu yang kerap kali luput dari perhatian kita. Sering kali kita lupa berterima kasih pada orang lain. Entah karena malu, gengsi, harga diri terlalu tinggi, atau benar-benar lupa. Bersyukur dan berterima kasih, dua hal sederhana yang sering terlupa di benak kita.

Segala sesuatu harus seimbang. Ada kalanya kita berusaha keras meraih cita-cita, ada saatnya pula kita berhenti sejenak untuk bersyukur dan merefleksikan usaha yang selama ini kita lakukan. Ada waktunya kita melihat ke atas agar diri kita termotivasi, ada masanya kita melihat ke bawah untuk mensyukuri apa yang telah diperoleh selama ini.

Di akhir tulisan ini, saya ingin berterima kasih dan bersyukur. Akhirnya, salah satu harapan saya terwujud. Kisah Albert dan Renna berhasil dinovelkan. Kisah yang awalnya di-publish secara berkala itu, akhirnya dapat terangkai utuh menjadi sebuah novel.

Data buku:
Judul buku: The Chosen Lady
Penulis: Maurinta
Penerbit: Stiletto
Jumlah halaman: 283
ISBN: 978 – 602 – 6648 – 11 – 2

Saya percaya, segala sesuatu harus ada prosesnya. Proses takkan mengkhianati hasil. Hanya kesabaran, doa, dan usaha yang dapat membuat kita menikmati proses. Anggaplah proses sebagai bagian manis dari perjalanan hidup yang harus kita nikmati.

So, saya berterima kasih pada banyak pihak. Pertama, tentunya pada Allah SWT. Lalu pada keluarga. Saya pun berterima kasih pada Arif Albert untuk inspirasi luar biasa yang ia berikan. Saya akan tetap mencintainya meski dengan hati tak termiliki. Terima kasih pada teman-teman baik saya: Chika Annasya, Albert Fast, Calisa Karima, Ghaznia Mutaharry, Andini Fatwa, dan Renna Maya. Pada sepupu saya yang cantik, Chelsea Yazid, saya ingin berterima kasih.

Entah bagaimana saya harus berterima kasih pada Ronald Wan untuk kesetiaannya mengikuti kisah Albert-Renna selama ini, untuk konsistensinya, supportnya, dan waktu yang diberikannya. Terima kasih telah menemani dan selalu ada saat saya terjatuh di titik terbawah. Saya tidak akan pernah melupakan itu. Terima kasih telah membuat saya bangkit dari titik terbawah, mengembalikan kepercayaan, membuat nyaman dalam keterbukaan, menenangkan, menguatkan, dan melunakkan hati. Hanya orang baik dan berhati lembut yang bisa melakukan itu semua.

Tak lupa saya berterima kasih pada Dinda Pertiwi untuk kisah fabel dan Kelas Inspirasinya, Lohmenz Neinjelen untuk book trailer buatannya yang sangat bagus, Mas Wahyu dengan dukungannya yang tak henti-henti untuk saya, Mbak Desol tempat saya berdiskusi sebelum merampungkan The Chosen Lady, dan Kak Syifa Ann untuk keramahan serta keterbukaannya.

Pada Adica Wirawan, Opa Tjiptadinata Effendi, Oma Roselina, Ibu Mike, Ibu Marla Suryani, Ibu Bianca, Ibu Lilik Fatimah Az Zahra, Pak Manula, Pak Herry Sofyan, Pak Achmad Suwefi, Pak Suyono Apol, Susy Haryawan, Pak Bambang Setyawan, Pak Salengke, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan di sini karena telah menjadi pembaca setia selama beberapa bulan terakhir. Terima kasih dan salam cinta dari saya.

**

Note:
Jangan lupa dapatkan novel The Chosen Lady di Stiletto Book.

SHARE
9 September 1997. Novel, medical, psychology, hypnotherapy. UPI Student Choir, DJ Arie Broadcasting School. Hidup untuk menyembuhkan. Menyembuhkan dengan cinta.

14 COMMENTS

  1. Alhamdulillah…dengan bersyukur nikmat akan semakin bertambah Maurine…selamat dan sukses untuk novelnya The Chosen Lady yg telah terbit….sukses ya Maurine

  2. Bersyukur kata yanga teramat penting …..tapi sering dilupakan……….selamat mba Latifa ya terus berkarya.

  3. Syukurlah Albert, Renna, Ronny, Dinda, dll telah hidup utuh dalam lembar-lembar novel nan aduhai…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.