Klub Liga Super China (CSL) Terancam Bangkrut?

Ngawursiana.com – Sejarah kelam sepak bola China kembali terulang. Masih jelas dalam ingatan kita musim kompetisi 2012 silam, klub-klub di Liga Super China (CSL). Sempat membuat geger dunia sepakbola karena mereka berani merekrut sejumlah bintang sepakbola kelas dunia yang pastinya berbandrol mahal, seperti Didier Drogba, Nicolas Anelka, dan Seydou Keita.

Namun kemudian apa yang terjadi, Para bintang kelas dunia tersebut satu persatu akhirnya “kabur” dengan alasan gajinya tidak dibayar. Nah, hal yang sama kini pun sepertinya akan kembali terulang kembali.

Dalam beberapa hari ini begitu gencar pemberitaan yang mengabarkan bahwa tiga belas (13) klub dari Liga Super China terancam kehilangan haknya untuk bisa ikut kompetisi musim depan (2018) karena mereka dianggap gagal membayar kewajiban gaji pemainnya dengan benar.

Pemberitahuan tersebut disampaikan langsung oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 11 Juli 2017 lalu. Setelah sebelumnya mereka mengadakan dengan Federasi Sepak Bola China (CFA). Dalam surat keputusan tersebut, disebutkan bahwa klub yang memiliki hutang di luar toleransi, tidak akan dapat ikut dalam kejuaraan klub kontinental.

Namun demikian klub yang bersangkutan masih diberi kesempatan, untuk dapat menyelesaikan tunggakan gaji pemainnya tersebut selambat-lambatnya 15 Agustus 2017 mendatang. Merekapun diwajibkan mengirim bukti pembayarannya ke Asosiasi Sepak Bola China (CFA).

Kalau kita ikuti tiga tahun terakhir, memang benar Liga Super China (CSL) kembali membuat kejutan besar terkait dengan perekrutan pemain bintang ini, bahkan sempat juga diangap menjadi ancaman bagi industri sepakbola Eropa. Mereka berani menggelontorkan dana besar hanya demi untuk mendapatkan peemain bintang yang merumput di benua biru tersebut.

Dari nama yang sudah kita ketahui dari media masing-masing seperti Oscar (Shanghai SIPG), Ezequiel Lavezzi (Hebei China Fortune), Graziano Pellé (Shandong Luneng Taishan), Hulk (Shanghai SIPG), Axel Witsel (Tianjin Quanjian), Carlos Tevez (Shanghai Shenhua), Ramires (Jiangsu Suning), Papiss Cisse (Shandong Luneng Taishan), Paulinho (Guangzhou Evergrande), dan John Obi Mikel (Tianjin Teda). Semuanya rela meninggalkan persaingan ketat liga sepakbola Eropa hanya untuk mendapatkan uang banyak dari klub-klub yang berlaga di liga Super China tersebut.

Akibat dari terlalu jor-jorannya dalam pembelian sejumlah pemain tersebut. 13 dari 16 klub peserta Liga Super China musim 2017 ini, terancam mengalami kebangkrutan. Anehnya dari data CFA ada tiga tim yang diangap keuangannya tidak bermasalah yakni Yanbian Funde, Henan Jianye, dan Guizhou Hengfeng. Ketiga klub tersebut bukan termasuk klub elit Liga CSL. seperti Funde ada di posisi 18, Jianye peringkat 12, dan Hengfeng posisi kesepuluh.

Yang lebih mengherankan justru dua di antaranya 13 klub bermasalah tersebut ada sang juara bertahan, Guangzhou Evergrande dan Shanghai SIPG, kedua klub ini memang tak bisa dipungkiri bahwa merekalah yang paling banyak mengelontorkan uangnya demi mendapatkan pemain bintang.

Berikut daftar 13 klub China yang dberitakan mengalami tunggakan gaji:

Liga Super: Shanghai Shenhua, Shanghai SIPG, Beijing Guoan, Changchun Yatai, Chongqing Dangdai Lifan, Hebei China Fortune, Guangzhou Evergrande, Guangzhou R&F, Jiangsu Suning, Liaoning Whowin, Shandong Luneng Taishan, Tianjin Quanjian, Tianjin TEDA.

Liga Satu: Beijing Renhe, Dalian Transcendence, Shanghai Shenxin, Shijiazhuang Ever Bright.

Liga Dua: Qingdao Jonoon.

Sebetulnya tanda tanda kebangkrutan klub-klub itu sudah bisa dibaca sejak enam bulan yang lalu, ketika pihak pemerintah China sudah mulai ikut campur. Mmenurut pemerintah China dana raksasa klub-klub CSL itu jauh lebih berguna seandainya mereka pergunakan untuk meningkatkan programnya di level akademi. Atau menggembleng para pemain mudanya.

Pemerintah Beijing dan Asosiasi Sepak Bola China (CFA) mengkhawatirkan perkembangan pesepakbola domestik mereka menyusul dengan banjirnya kedatangan para pesepakbola asing tersebut.

Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan baru yaitu dengan mewajibkan setiap klub harus membayar senilai pemain yang didatangkan guna pengembangan pemain lokal. Atau dengan kata lain bisa juga dikatakan pemerintah mengenakan pajak 100% untuk pemain asing.

Menjadi tidak heran akhirnya akibat tekanan pihak pemerintah tersebut, klub-klub liga CSL batal mendatangkan pemain-pemain ternama liga Eropa hingga sampai penutupan bursa transfer, Jumat (14/7) lalu. Sudah barang tentu penyebabnya tak lain karena aturan pajak baru dengan nilai 100 persen bagi pemain asing yang didatangkan ke liga tersebut.

Kalau mau jujur kedatangan pesepakbola terbaik dunia tersebut tidak selalu membawa kesan atau positif bagi liga manapun di dunia ini kalau kesiapan kompetisinya Liga Profesionalnya memang belum siap.

Fakta yang terjadi memang betul gaji yang tinggi ternyata tidak diimbangi dengan prestasi. Seperti yang terjadi di China ini hingga pekan ke-18 Liga musim 2017, Shanghai Shenhua yang mendatangkan Carlos Tevez Mantan bomber Manchester City dengan mahar Rp 999 miliar. Tevez juga mendapatkan gaji senilai 615 ribu poundsterling (setara Rp 10 miliar) per pekan. Sampai pekan ke 18 ini Shanghai Shensua klub sang bintang hanya mampu berada di peringkat ke-11 dengan mengoleksi 20 poin.

Pertanyaanya bagaimana dengan liga sepakbola profesional Indonesia Liga-1 dengan program Marque Playernya? Seperti yang kita ketahui PERSIB Bandung berhasil mendatangkan dua pemain bintangnya Michael Essien dan Carlton Cole, dua mantan penghuni Liga Ingggris EPL.

Namun apa yang terjadi? Persib Bandung sampai saat ini masih betah duduk di peringkat ke 14, sementara musim kompetisi 2017 ini hanya menyisakan dua laga lagi ? tentu sekali lagi pertanyaanya adalah apakah Liga 1 Indonesia akan mengikuti jejak Liga super China (CS) …..he….he jangan sampai ……mari kita tunggu saja.

Borneo 27 Juli 2017

Salam Olah Raga

Sumber foto : (1)(2) dan (3)

Tags:

7 Responses

  1. author

    Suyono Apol4 months ago

    Ketentuan setor senilai pemain asing yang dibeli, dan digunajan untuk pembinaan pemain lokal bagus tapi kenapa mendadak? Itu sama saja menghancurkan sistem yang sedang berjalan.

    Reply
    • author

      Hery Syofyan4 months ago

      YA pak yono kebijakan pajak transfer 100% itu sama saja membunuh pasar di Liga China. Pastinya klub akan lebih berhati-hati atau malah berhenti merekrut pemain bintang yang berbandrol mahal itu.

      Reply
  2. author

    Ronald Wan4 months ago

    Bukannya banyak klub di Indonesia yang masih hutang gaji?

    Reply
  3. author

    Susy Haryawan4 months ago

    China bisa sukses banyak cabang, bola yang terlalu ingin cepat seperti eropa buat mereka tidak rasional..
    soal liga 1 yang mau ngikut, ya paling bangkrut juga, menyenangkan vetera Eropa saja, mutu sama saja

    Reply
  4. author

    Latifa4 months ago

    Sejarah kelam kembali terulang.

    Reply
  5. author

    Mbak Yun4 months ago

    Mas Hery,
    Saya hadir dan menyimak..yaaa..:))

    Reply
  6. author

    Manula Sepuh4 months ago

    Jor2an kalo soal belanja pemain, beda dengan Arsene Wenger yg getol jual pemain.
    Jadi mateng jual, juara sih nomer tujuh katanya.

    Reply

Leave a Reply