Legenda Raja Arthur dalam Kreatifitas Tafsir Ritchie

 

Ngawursiana.com–Sedangkal acuan selera saya atas produk film Hollywood, hanya ada beberapa nama yang memiliki kreatifitas khusus dalam melakukan tafsir ulang terhadap kisah legenda, baik yang berupa sosok dalam era Ancient Regime atau terhadap imajinasi Superhero. Salam satu nama itu adalah Guy Ritchie. Selain Nolan, tentu saja.

Pria yang lahir 10 September 1968 ini adalah seorang Inggris. Pertama kali membuat film tahun 1995, sebuah film berdurasi pendek yang mengesankan dan membuat investor mendukungnya dalam pembuatan film komedi-kriminal berjudul Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) dimana Jason Statham diorbitkan.

Selanjutnya ia membuat Snacth (2000), Sleep Away (2002), Revolver (2005), RocknRolla (2008), Sherlock Holmes (2009 dan 2011), The Man from U.N.C.L.E (2015) yang merupakan film jenis komedi intelijen serta yang terbaru adalah King Arthur, Legend of the Sword (2017). Menurut wikipedia, Ritchie kini sedang menggarap film Alladin.

Dari daftar film besutan mantan suami Madonna ini, saya belum menyaksikan Sleep Away, Revolver dan RocknRolla. Selebihnya, film-film Ritchie sudah saya konsumsi. Beberapa bahkan dengan berkali-kali.

Dus, kreatifitas sinematik apa yang menarik dari pria Inggris ini? Ciri sinematik apa yang khas dari film-filmnya sehingga membedakan dengan Tarantino (yang membongkar total imej Django dari sebelumnya berkulit putih), Nolan (yang menafsir trilogi Batman dengan sangat “eksistensialis”) atau Doug Liman (yang merekonstruksi The Bourne Identity sebagai aksi kontra-intelijen yang begitu heroik sekaligus traumatik), misalnya?

Saya hanya akan berusaha menunjukan yang pertama: kreatifitas sinematik–ijinkan istilah ini dipakai. Sedang yang kedua, biarlah itu berjalan seiring waktu. Saya jelas bukan kritikus film, Coi. Hanya kegelisahan yang percaya bahwa film sebagai bagian dari “budaya layar” (Screen Culture) tidak lahir sebatas hiburan pembunuh waktu luang.

Mengikuti pendapat Ariel Heryanto dalam buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (Gramedia: 2015), film bisa lahir dari kondisi perebutan hegemoni dan penyusunan identitas masyarakat, khususnya di era ketika terjadi kekosongan hegemoni paska-otoritarian.

King Arthur, Legend of the Sword

Kita ambil satu saja film Ritchie. Film terbarunya dan belum lama turun dari layar bioskop tanah air. Film yang menafsir ulang legenda Raja Arthur.

Sebelumnya, di layar lebar sendiri, sudah ada film bertema Arthur, seperti  Arthur (1981) dan First Knight (1995). Jauh sebelumnya, sudah ada yang mengisahkan legenda ini dalam parodi berjudul Monty Python and the Holy Grail (1975). Bahkan di tahun 1963, Walt Disney sudah membuat versi animasi dari film ini. Demikian keterangan yang bisa dibaca dari Kompas.com.

Membaca Arthur versi Ritchie tentu harus melihat Raja Arthur dalam legendanya yang terus hidup samar-samar di kesadaran bersama orang-orang Inggris. Kisah Raja Arthur mula-mula muncul dalam buku “History of Britons” karangan Nennius (830 M). Sampai sekarang, keberadaan Raja yang dikisahkan memiliki pedang hebat Excalibur, beraliansi dengan penyihir Merlin dan menegakkan wibawa kerajaan-kerajaan Anglo-Saxon ini, belum terbukti secara empiris.

Oleh sebab status historisnya yang masih kental dengan legenda–artinya sosok Arthur dipelihara oleh mitos-mitos dan glorifikasi–maka tafsir atasnya yang diterjemahkan ke dalam medium sinema tidak memiiki “kaidah obyektifitas” tertentu. Sebab Arthur adalah “tanda yang kosong”.

Artinya, apa yang dimaknai sebagai legenda Raja Arthur bukan saja tergantung “sudut pandang sinematik sutradara dan penulis naskah”, namun juga yang tak kalah penting adalah, bagaimana sutradara mengontekstualisasikan tafsirnya ke dalam “hidup kekinian”.

Di persilangan sudut pandang dan kontekstualisasi kekinian ini, King Arthur, Legend of the Sword-Ritchie memiliki arti yang khusus. Tentu menurut saya.

Dimana kita menyimak arti khusus dimaksud?

Kisah Arthur versi Ritchie dapat dipilah dalam dua periode, pra dan paska-pemberontakan. Dalam masa pra-pemberontakan, ada empat momen/peristiwa penting dalam hidup Arthur yang dikonstruksi oleh Ritchie. Momen pra-pemberontakan inilah yang menjadi inti dari seluruh film. Sisanya hanyalah happy ending. Sekali lagi, bagi saya.

Pertama, Arthur kecil dikisahkan sebagai anak yang lahir dalam “momen tragedi’. Tragedi yang dibentuk dari pembunuhan ayah (raja Uther) dan ibunya oleh Vortigern, paman yang ambisus dan menjalankan segala cara demi merebut tahta.  Vortigern bersekutu dengan geng penyihir jahat yang memfasilitasi dirinya menjadi “adimanusia” lewat ilmu hitam.

Arthur kecil yang kemudian meloloskan diri dengan perahu dan ditemukan beberapa perempuan pekerja rumah pelacuran di Londonium (London zaman itu). Ia hidup bersama “ingatan tragis” yang setiap saat menjadi mimpi buruk yang tak pernah dimengertinya hingga bertemu dengan penyihir dan loyalis ayahnya.

Ingatan atas tragedi ini, secara psikis, adalah “katup penghambat sekaligus pembebas” bagi Arthur yang memiliki trah raja dan pewaris kehebatan pedang Excalibur. Kondisi inilah yang menjadi medan perjuangan pertama Arthur yang jelata menuju Arthur yang raja.

Kedua, Arthur dalam momen “pembentukan karakter politik”, telah terdidik dalam lingkungan jelata yang mengajarkan hidup yang bersaing (dengan geng Viking) dan membangun persekutuan (dengan grup ‘Gladiator’). Termasuk membangun persekutuan dengan tangan-tangan kerajaan untuk menjalankan operasi bisnis pelacuran dan premanisme. Arthur tampak seperti Godfather kecil di Londonium.

Dalam masa-masa ini, Arthur mengasah bakat dan strategi berkuasanya.

Ketiga, momen “mencapai pembebasan dari ingatan tragik”. Momen ini diceritakan terbentuk sesudah kemunculan penyihir dan para loyalis raja Uther yang “menyiapkan perlawanan bawah tanah” semasa Vortigern berkuasa. Penyihir dan loyalis-lah yang menuntun Arthur untuk menerima tragedi itu sebagai rasa sakit yang menjadi energi perjuangan menyelamatkan rakyat dan kerajaan dari ambisi pamannya  yang dikendalikan kekuatan hitam.

Di momen pembebasan ini, Arthur harus “menghancurkan dirinya yang lama agar melahirkan kapasitas subyek yang baru”, sebagaimana tergambar dalam perdebatan si penyihir dan sir Bedivere. Untuk bebas, Arthur harus membawa pedang Excalibur ke altar di Daratan Kelam dimana ia akan diuji oleh serangan makhluk jadi-jadian yang membuatnya berada dalam ketegangan antara hidup dan memilih mati.

Teori pembebasan diri seperti ini mengingatkan saya pada filsafat subyek dari Slavoj Zizek, salah satu filsuf yang sedang ngetop asal Slovenia. Slavoj Zizek sekarang ini mengajar di salah satu kampus di Inggris.

Zizek menyusun satu proyek rekonstruksi subyek dalam semangat emansipasi dalam kerangka neo-Marxisme. Dengan menggunakan psikologi Lacan dan filsafat Hegel, ia tiba pada salah satu kesimpulan filosofis di atas. Tentu saja, alur berpikir Zizek tidak sesederhana narasi yang ditunjukan oleh Ritchie dalam film ini.

Pertanyaannya, mungkinkah Ritchie membaca filsafat Zizek? Entahlah.

Keempat, “momen menyusun strategi dan aliansi”. Pada bagian ini, Arthur dikisahkan memimpin rapat bersama para loyalis dari kaum bangsawan dan jelata (ex-warga pelacuran dan sekitarnya). Saat bersamaan, namanya telah menjadi katalisator yang memicu pemberontakan-pemberontakan kecil yang menimbulkan efek delegitimasi dan keresahan di istana pamannya.

Beberapa keputusan strategis lahir dari rapat itu dan bukan karena kapasitas kharisma dari Arthur.

Empat momen penting pra-pemberontakan yang ditampilkan Ritchie menunjukan bahwa legenda Arthur, baginya, tidak dibentuk dari elemen-elemen mistis alias yang supramanusia, karena itu di luar jangkauan nalar atau pengalaman faktual yang mungkin. Sebaliknya, selalu ada momen-momen psikis, sosiologis dan politis yang melahirkan pemimpin besar. Karena itu, apa yang disebut yang legendaris hanyalah ada sejauh ia historis.

Ritchie sebenarnya sedang melakukan demistifikasi atas legenda Arthur.

Dengan kata lain, kreatifitas sinematik Ritchie adalah karena memasukkan elemen-elemen rasional yakni teori-teori psikologi, sosiologi, politik dan filsafat emansipasi dari tubuh cerita raja Arthur. Demistifikasi yang dilakukan adalah untuk melahirkan legenda Arthur yang “lebih nyambung” dengan perkembangan kesadaran kekinian dalam konteks ilmu pengetahuan.

Satu  elemen mistis yang belum bisa didekonstruksi Ritchie adalah keberadaan penyihir dan pedang Excalibur. Namun bisa jadi, kondisi ini disengaja untuk menjelaskan yang rasional tidak selalu menjadi sebab utama. Selalu ada kekuatan-kekuatan “supra-rasional” yang  terlibat dalam mencapai takdir sejarah tertentu.

Lantas, bagaimanakah melihat film ini dalam ruang perebutan hegemoni? Nah, pertanyaan ini biarlah menjadi rahasia antara saya dan Guy Ritchie.

Satu yang saya usulkan, film-film Ritchie termasuk yang patut disimak karena kreatif dan segar. Tapi, mohon, jangan dengan kegairahan menyimak drama India atau Turki yang sedang marak di televisi tanah air.

***

Sumber gambar: The AV Club

 

S Aji

Udik. Pinggiran. Berbahaya!

Latest posts by S Aji (see all)

Tags:

20 Responses

  1. author

    Susy Haryawan5 months ago

    coba kerisnya Mpu Gadring dibuat Mas, gak kalah keren ya?

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Belum ada generasi sineas kekinian yang mau bikin Mas
      mungkin juga karena mahaaal
      hehehe

      Reply
  2. author

    Manula Sepuh5 months ago

    Tajam mana sama pedangnya Pebri?
    He3.
    Keren nih tulisan.

    Reply
    • author

      Difa5 months ago

      Keren bakiak si mbah

      Hahahaha

      Reply
      • author

        S Aji5 months ago

        kereeen Mbelimbing keleeeesss
        Kamu kok gak nulis2?
        kayak orang sibuk aja

        hiikzz

        Reply
        • author

          Difa5 months ago

          Wkwkwkwkwkwkk

          Ditantangin Budheee Desolllll malaaah tumpul om,

          padahaal dah tirakat tujuh hari tujuh malam di goa selarong

          wkwkwkwkwkwk

          Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Tajam punya prof Pebri, Mbah.
      Soalnya, Sudah duluan kekinian

      haghag
      Makasih Mbah

      Reply
  3. author

    Ronald Wan5 months ago

    Saya nontonnya dengan gairah drama Korea, hehehe gimana tuh
    Bahasan yang lengkap dan mantap

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Waduh, pasti konfliknya lebih rumit dan lama Om Ron
      Hahaha

      Makasih Om

      Reply
  4. author

    Difa5 months ago

    Nonton aaaaah

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Gak ada berbie, jangan kamu tersesat di menaranya Vortigern,
      wahaii Dkiiillsss

      Reply
      • author

        Difa5 months ago

        Wkwkwkwkwkwk

        Biarkan diriku tersesat dan terombang ambing dalam dunia Berbie wahaai si Jenggot gondrong

        opzz

        wkwkwkwk

        Reply
  5. author

    Latifa5 months ago

    Terima kasih artikel menariknya, Mas Aji. Dari sini, saya tahu kalau Guy Ritchie tanggal lahirnya beda sehari sama saya. *ups*

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Sama terimakasih Mba Maurin.
      pas bulan September, jangan lupa undangan makan-makan ya Mba

      Siipp
      Okee

      Haha

      Reply
  6. author

    Suyono Apol5 months ago

    Review film yang sebobot makalah yang bisa diseminarkan. Kalau kesimpulan saya seusai nonton film hanyalah sebatas: seru, asu, sedih, kocak, gile, dst.

    Reply
  7. author

    Hery Syofyan5 months ago

    Tks bro sudah berbagi…………………..

    Reply
  8. author

    Mbak Yun5 months ago

    Mas Aji,
    Selalu mantaaabb…!
    Kayaknya peran pedang dalam legenda Arthur masih akan melekat deh..karena..
    Pedang itu tidak terpisah dari Arthur….hanya “Arthur” yg bisa mencabut pedang..

    Saya suka nonton Arthur…yg versi tuk anakpun saya tonton…hehehee..

    Makasih artikelnya…

    Reply
  9. author

    mike reyssent5 months ago

    Oom Aji…
    Saya baru nonton sepotong doang…
    Baru sampe Arthur menjelang dewasanya…
    Abis itu lupa nerusin, riuh di group mulu sih…

    Alesan…

    Wakakaka..

    Reply
  10. author

    Mas Wahyu5 months ago

    Tafsir atas legenda atau superhero tak hanya Nolan dan Ritchoe di layar perak, Mas. Namun juga di serial film tv…Gotham contohnya….ditilik dari nama sutradaranya asia punya tjch…mungkin tinggal di Holly…

    Reply

Leave a Reply