Suster Yuni: Antara Rasa Geli dan Rasa Takut

Cerpen I Suster Yuni Antara Rasa Geli dan Rasa Takut

 

Takut adalah soal perasaan dan pikiran. Takut maknanya bisa macam-macam. Tak usah kujabarkan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. cukup kupaparkan beberapa contoh pasti semua mengerti.

Misalnya Pak Manula bertemu beruang hitam saat pergi memancing. Disitulah rasa takut itu muncul. Ditandai dengan cucuran keringat dingin, jantung berdetak dengan kencang, muka pucat, dan ada keinginan untuk secepat kilat pergi dari tempat pertemuan itu. Gejala itu ada karena merasa ada ancaman yang membahayakan. Ancaman terluka, bahkan jiwa melayang. Itulah takut.

Lho, katanya takut menyangkut perasaan dan pikiran. Perasaan sudah diuraikan dengan mudah. Lalu dimana peran pikiran dalam rasa takut itu? Nich, contoh peran pikiran. Pak Manula tidak lari dengan segera untuk meninggalkan beruang karena ia punya pengetahuan bahwa menghadapi beruang tidak boleh lari, tetapi harus diam. Jika Pak Manula bergerak lari malah akan terlihat sebagai ancaman dalam pandangan beruang yang ditemuinya itu. Mas Beruang yang ditemui Pak Manula akan mengejarnya sampai dapat, bahkan bisa mencabik-cabik Pak Manula jika tertangkap. Bergerak lari buat Mas Beruang adalah ancaman, walaupun di sisi Pak Manula, lari itu bisa menyelamatkan diri.

Pikiran Pak Manula, walaupun dengan rasa jerih ia berbaik hati bersedia berbagi hasil tangkapan ikan yang ia peroleh dengan Mas Beruang. Diberikannya satu persatu ikan itu sampai Mas Beruang kenyang. Sehingga selamatlah Pak Manula dari kekejaman dan kebrutalan Mas Beruang.

Aku beri contoh lain, Mbak Sari takut pada keramaian demikian pengakuannya. Begitu simbak perkasa ini menemui keramaian langsung mlipir (menjauh). Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari tubuhnya yang monthok padat berisi. Mukanya yang manis berubah menjadi merah padam bak muka Mak Lampir. Kepalanya mendadak pusing. Tubuhnya yang atletis gemetar dan lemas. Mungkin jika aku didekatnya pasti dipeluknya saking tak inginnya ia berada di tengah keramaian.

Jelas, khan?

Sekarang kita bahas rasa geli.

Geli juga demikian. Maksudku geli disini juga sama halnya dengan takut. Ada peran perasaan dan pikiran disitu. Contohnya Jika kita membaca celotehan dan celetukan Prof. Pebrianov di grup WA “K-Ngawur” siapapun pasti merasa geli. Kita pun segera mengetik emoticon suka, gembira dan tertawa atau mengetik “wakakakak”, “wkwkwkwk”, “hahahaha”, “hihihi”, “heheheh”, “xixixi”, “qiqiqi” atau “xoxoxo”. Iya kita lakukan itu semua, karena rasa geli. Otakpun accordingly menyuruh simpul syaraf gembira agar menarik mulut indah kita untuk tersenyum.  Geli itu menyenangkan perasaan, membuat kita gembira, membuat kita nyaman dan aman, Akibatnya siapapun happy dandy dengan celotehan dan celetukan Prof. Pebrianov. Kemunculan Prof. Pebrianov tidak menimbulkan ketakutan, sebaliknya menimbulkan keceriaan.

Dokumen Pribadi

Ada juga geli karena sentuhan, misalnya kita bermain-main dengan bayi atau anak-anak, kemudian kita sentuh (gelitikin) pinggang kiri kanannya agar mereka tertawa. Ada lagi geli yang hot.  Geli akibat sentuhan pasangan kita d area G-Spot kita (Maaf banget buat yang jomblo. Entar indah pada waktunya).

Namun ada geli yang lain. Geli yang sama sekali jauh berbeda dengan uraian geli yang kusebutkan di atas. Ini geli yang tidak masuk akal. Namun juga masih melibatkan perasaan dan pikiran. Geli yang bagaimana sich, Mas Nggantheng? (Mas AAA mode on).

Geli dalam makna yang lain yang kumaksud adalah misalnya saat Mbak Sri dan mbak Desol melihat kecoa. Mbak Sri yang manis semampai ini langsung meloncat dan menjerit-jerit jika berjumpa kecoa di dapur. Tubuhnya yang semampai mendadak bergetar keras dan bahkan ia menjadi sprinter tercepat di dunia jika berjumpa dengan hewan mungil bernama kecoa itu.

Reaksi yang berbeda namun masih senada ditunjukkan oleh Mbak Desol. Wajahnya yang putih cantik berubah pucat dan kemerahan bak kepiting rebus. Ia akan histeris dan menjerit ketakutan jika berpapasan dengan kecoa saat mau mandi. Aku pun bisa dipeluknya dengan erat jika berada di dekatnya.

Kalau dipikir kecoa itu serangga apaan sich? Kecil gitu, tak berdaya lagi, diinjak sekali saja pasti mampus. Tapi kecoa membuat mbak Sri dan mbak Desol bilang hhhiiiyyyyyy dan lari.

Nah, saat itulah geli bercampur takut menjadi satu. Hal ini tak hanya menimpa wanita, pria pun bisa dihinggapi hal-hal tertentu yang membuatnya takut dan geli bersatu rukun sekaligus.

Aku pun juga dihinggapi rasa takut dan rasa geli sebagaimana diuraikan terkahir.

Takut dan geli menjadi rukun menghinggapiku begitu aku melihat jarum suntik. Entah bagaimana asal muasalnya aku takut pada jarum suntik. Aku tidak ingat dan aku pun tidak tahu. Begitu aku melihat jarum suntik, gantengku hilang berganti ketegangan dan ada keinginan kuat untuk lari. Karenanya, kapan pun aku diperiksa dokter, aku selalu memberitahu dokter kalau aku takut dan geli melihat jarum suntik. walaupun kata orang  jarum suntik saat ditusukkan terasa hanya seperti digigit semut.

Aku perlu waktu agak lama untuk mengumpulkan keberanian dan menghilangkan rasa geli jika harus disuntik, baik untuk diambil sampel darah ataupun untuk keperluan infus serta dimaksudkan untuk memasukan obat. Untuk ituaku lebih memilih obat telan saja.

Aku sudah gemetar dan berteriak bahkan sebelum benar-benar suntik itu menusuk daging di tubuhku. Kelakuanku ini merepotkan dokter dan timnya yang merawat jantungku, karena menyebabkan detak jantungku semakin cepat dan tensi menjadi naik. Karenaa itu, selalu mereka mengalihkan perhatian atau mengajak bicara kesana kemari terlebih dahulu agar aku mau disuntik.

****

Pukul 06.25 WIB Kamar Adenium No. 18.

Lho Pak dokter, aku khan sehat untuk apa harus diinfus!?” tolakku saat dokter muda yang bernama Ismail itu datang dan memberitahu bahwa aku harus diinfus sebagai persiapan operasi kateterisasi jantung.

“Ini sudah prosedur, Pak Wahyu. Setiap pasien sebelum kateterisasi jantung harus diinfus.” dokter Ismail menjelaskan. Aku tetap menggeleng dengan kuat dan menolak. Pikiran dan perasaanku sudah membayangkan jarum suntik kecil tajam dan menusuk. Buatku itu amat menakutkan dan membuatku geli. Bulu kudukku spontan merinding.

“Infus memberikan energi, apalagi Pak Wahyu khan puasa sejak jam 3pagi tadi. Bapak perlu asupan energi. Infus bisa memberikan energi, Pak.” Kali ini suara dokter muda Ismail sedikit meninggi. “Disuntik hanya beberapa detik dan lagian sakitnya seperti digigit semut,” Argumen dokter muda Ismail sambil menatapku.

“Apakah nggak ada cara lain, Dokter?” aku menjawab.

“Tdak ada cara lain, Pak Wahyu. Mesti diinfus” jawab Dokter muda Ismail singkat dan tegas.

“Dokter, beri saya waktu. Saya perlu waktu mengumpulkan keberanian dulu. Dokter tahu saya takut dan geli jarum suntik. Nggak apa, khan?” Aku berharap memelas menatap Dokter Ismail yang tampak kesal denganku.

Okay, 30 menit saya beri waktu. Saya akan minta perawat jaga melakukannya nanti. Saya harus memeriksa pasien lain.” dokter muda Ismail beranjak pergi tanpa menunggu responku.

Aku terpaksa mengangguk.”Tiga puluh menit, Dokter. Lebih juga nggak apa-apa.”

Aku melihat jam dinding kamar menunjukkan pukul 06.30 WIB saat ini. “Berarti jam tujuh pagi aku diinfus.” Aku menghitung.

Aku pun mulai menenangkan diri, istighfar, memuji nama Tuhan, mengambil nafas dan mengaturnya. Berpikir bahwa jarum suntik adalah semut merah. Bukan Raisa, kalau bayangin Raisa takut ada yang marah dan cemburu.

****

“Selamat pagi, Pak Wahyu.” Reflek aku menoleh kearah suara itu. Aku terkejut dan terpana melihatnya. Sosok manis dan cantik menyapaku tiba-tiba berdiri di bed dimana aku berbaring. Ia berdiri sambil tersenyum manis. Ia mendorong meja kecil peralatan medis. Suster Yuni.

Hatiku berdesir dan jantungku spontan berdetak kencang. “Selamat pagi, Mbak Suster” sedikit gagap aku menjawab sapaannya. “Mau tensi dan EKG lagikah?” aku bertanya heran atas kedatangannya yang tak kusangka dan di luar jadwal.

“Mau memasang infusion set dan catheter urine, Mas…eh, Pak!”  Suster Yuni memberi tahu.

“Hah?!” aku terkejut. Aku bingung sekaligus merasa jerih. Tak tahu harus bagaimana. Badanku bergetar dan gemetar. Gemetar membayangkan jarum suntik. Bergetar karena ada makhluk macan-manis cantik berdiri sambil tersenyum dan membuat hatiku kebat-kebit. Tak hanya otakku yang bingung, badanku pun ikut bingung. Aku linglung. Astaghfirullah. Alhamdulillah.

“Tapi, khan pukul 07.00 pagi pasangnya kata dokter muda Ismail. Masih ada waktu dua puluh menit lagi.” Aku menjelaskan dan beralasan kepada Suster Yuni. Namun tetap dengan senyumnya Suster Yuni menjawab,”Lebih cepat lebih baik, Pak. Pekerjaan saya banyak.”

Tanpa banyak bicara lagi Suster Yuni dengan cekatan membuka infusion set dari tempatnya.

Aku terkesima tak tahu harus berbuat apa. Jantungku berdetak lebih cepat. Tanganku mulai berkeringat. Mataku nanar.

****

Berhasilkah Suster Yuni memasang infusion set dan catheter urine pada pasiennya? Apakah yang dilakukan oleh Suster Yuni agar ia berhasil menjalankan tugasnya? Ikuti terus kisah Suster Yuni dan Mas Wahyu ini hanya di Ngawursiana.

Kisah berikutnya:

https://penatajam.com/2017/07/18/suster-yuni-rindu-kita/

——-mw——-

*) Cerita ini adalah kisah fiksi, kesamaan nama, tempat dan karakter pelaku adalah kebetuan belaka.

**) Sumber gambar disini

 

 

 

36 COMMENTS

  1. ”Lebih cepat lebih baik, Pak. Pekerjaan saya banyak.”

    Iiih, suster kok tegaaaa. Buru2 karena pekerjaan banyak.
    dih, gak suka akoooh Mas

    hiikz

  2. Saya jadi curiga.. Pak Wahyu ini sakit beneran apa iseng ya? Sakit kok produktif? Kalo tangannya diinfus kok masih bisa ngetik ya? 😀

    Menarik banget ada rasa takut berdimensi geli.. Haha.. Kalo saya bayangkan, geli itu bikin rasa ngilu di dada. Kayak ada yang tertusuk gimana gitu ya? Sereeemm.. hehe.. Phobia itu berkaitan dengan rasa takut irrasional. Nggak jelas penyebabnya dan responnya berlebihan. Kalo ketemu jarum suntik, semua orang pasti takut. Tapi kalo berlebihan, sampe maksa minum cairan infus supaya nggak usah disuntik, nah itu.. berlebihan.. haha.. Ketemu kecoak semua pasti jijik dan geli (pake istilah Pak Wahyu) tapi kalo denger kata kecoak aja udah pingsan, nah itu phobia namanya. Rasa takutnya irrasional. Masa sama gambar kecoak aja takut? Begitulah kira-kira..

    • Saya penderita angina pektoris unstable dengan sumbatan di tiga arteri di pembuluh jantung. Satu sumbatan di pembuluh darah levelnya 100%, dua lainnya 80%.. Serangan jantung pertama tahun 2014, serangan kedua 26 Mei 2017 dirawat di RSUD di Jember Jawa Timur. Dirawat di ICCU dan saat ini rawat jalan dan rutin kontrol ke rumah sakit.

      Terakhir opname 10 – 12 Juli 2017 utk operasi kateterisasi jantung. Hasilnya saya harus melakukan Coronary Artery Bypass Grafting/CABG. Saya sedang menunggu giliran operasi CABG.

      Senin besok, adalah hari dimana saya dirujuk ke rumah sakit yang bisa melakukan CABG secepatnya sesuai sumbatan yang saya derita.

      Mudah-mudahan saya mendapatkan jadwal CABG sebelum ketiga sumbatan menjadi 100% sehingga masih menikmati indahnya duina bersama keluarga, kolega bisnis dan teman-teman dunia maya.

      Nah, kisah Suster Yuni adalah kisah yang saya tulis berdasarkan pengalaman yang saya alami saat saya di rumah sakit, saat kontrol dan saat di ruang ICCU/IGD/UGD ruang resusitasi, ruang perawatan, kamar operasi, ruang CT Scan, ruang Echocardiology serta di Poli Jantung, Treadmil, atau laboratorium serta ruang tunggu.

      Saya mencatat yang penting dalam setiap ada kesempatan dan apa yang saya alami serta menulisnya dalam kisah seri SUSTER YUNI saat saya ada waktu. 😆😆😆

      Suster Yuni adalah sosok suster yang benar-benar ada.

      Memperhatian keadaan kesehatan saya, team dokter, suster, keluarga, partner, dan teman-teman dunia maya suka mengajak besendau gurau to enjoy this life which God has given to us.
      ****
      I got your points about phobia with thank you. Saya senang mbak Naft memberikan pendapat soal takut, geli dan phobia. Saya akan perbaiki cerpen Suster Yuni sesuai poin yang saya pahami dari uraian Mbak Naft.

      Once, thank you.

  3. “Aku terkesima tak tahu harus berbuat apa. Jantungku berdetak lebih cepat. Tanganku mulai berkeringat. Mataku nanar”……… Ikuti terus kisah Suster Yuni dan Mas Wahyu hanya di Ngawursiana……..Mantap

  4. Serasa dengerin sandiwara radio hahaha…, duh makin penasaran dengan suster Yuni hehehe…,tolong Mas Wahyu di share akun fbnya suster cantik itu hahaha

    • Wah, di rumah sakit profesional. Nggak bisa tanya akun FB nya… tapi iseng-iseng aja di search Yuni suster rumah sakit…siapa tahu ketemu…heheheheh

  5. Suster Yuni lanjut lagi. Well, rasa takut itu juga bisa menjadi penyakit psikologis. Phobia. Tapi kalau rasa takutnya berlebihan.

    • Betul komentarmu, Maurin… episode yang selanjutnya ada rasa takut yang lain yang akan kubahas….

    • Kupeluk perempuannya lelaki lain…wahahhahaah… trims ya mbak bersedia namanya kucatut di cerpenku

  6. Enak aja disamain ketemu beruang, amit2, kapok, engga mau lagi se-umur2.

    Lha ketemu suster macan, manis dan cantik, kalo bisa jangan ditinggal pergi, pengen ditemenin terus.

    Ya apa iyo? .

    • Mending ketemu jarum suntik, Pak Manula…bisa ketemu Suster Yuni….bikin sakit jadi cepat sembuh….hehehheh

      • Soal jarum suntik?
        Bang Gopar yg di Citeureup dibawain golok dia samperin.
        Dibawain jarum suntik? Kabooor dia tuh. Ter-birit2 ngacir.

        • Wahahhaah…iya Pak.. saya ampun dach lihat jarum suntik… mending dibawain Suster Yuni…kalo beruang hitam…ogaaahhhhh….

    • Mending saya di suntik bolak balik sama suster Yuni dari pada ketemu beruang, di dalam hutan lagi hahaha…, pakde tolong kalau mancing pakai bakiak jd kalau ketemu beruang lagi tinggal timpuk hahaha

      • Mas Wahyu ngerayu si MaCan, aku ngerayu si beruang lapar.
        Lihat cakarnya juga bergidik.
        Lihat posisi beruang berhenti dan tidak siap menerkam, sedikit tenang.
        Lihat posisi suster Yuni,disamping mah nyaman dan uhuuy.

      • Mas Sigit, Pak Manula diam-diam pengen ketemu suster Yuni dibanding ketemu beruang yang kedua kali…. wahaahahahab

    • Aku yang lemah berbaring namun dikeroyok tim medis biar cepat sembuh katanya. Kali ini aku bersedia disuntik, Pak SA…. wahahhaah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here