Di Kamar Sepi Bersama Suster Yuni (18+++)

Cerpen I Di Kamar Sepi Bersama Suster Yuni

 

“Pak…! Pak…!! Suara suster muda manis menggoyang bahu tangan kiriku yang tertidur pulas. Kupingku mendengarnya. Sedikit aku terhenyak. Aku memicingkan mataku ke arah wajah itu. Ada kesegaran di wajahnya yang mungil. Sehabis cuci muka. Dia tersenyum mencoba ramah. Ia berdiri di bed di sebelah kiri. Tercium lembut wangi parfum yang dipakainya.

“Selamat pagi, mbak suster…..” Segera aku melihat bordiran bingkai biru yang terjahit di pakaian di dadanya sebelah kanan. Namanya singkat. “Yuni!” Aku menyapa ramah sedikit ada rasa kesal, karena mengganggu tidurku yang pulas. Situasi kamar masih sepi. Detak jam dinding pun terdengar.

Dia tersenyum lagi. Manis. Kali ini aku melihat ke arah wajahnya agak lama, tetapi segera kupalingkan mukaku ke arah hapeku. Jam 04.32 pagi. Aku memang selalu tidur menyamping kanan sehngga tangan kiriku di atas, tangan kananku kupakai sebagai bantal. Suster Yuni membiarkan aku sebentar agar tersadar penuh. Otakku mulai bekerja. Hari ini adalah hari Selasa tanggal sebelas bulan Juli tahun duaribu tujuh belas. Aku ingat aku terbaring berada di rumah sakit umum daerah.

“Maaf Pak, saya mau melakukan test EKG dan mengukur tensi!” Suster Yuni menjelaskan maksud membangunkan aku di jam shubuh ini. Tanpa menunggu jawabanku ia mempersiapkan peralatan tensi, lalu ia meraih tangan kiriku perlahan. Ia membebatkan alat tensi itu di lengan kiriku bagian atas. Setelah terpasang dengan benar, ia memompanya sehingga mencengkeram kuat lenganku. Tak lupa ia taruh stetoskop di nadiku di ujung bebatan kain pengikat tensi. Sesekali ia memompanya. Aku diam saja sambl memperhatikan ia bekerja. Sesekali aku memandang wajahnya yang manis.

“Berapa Mbak?” tanyaku sambil mencoba tersenyum. Aku yakin wajahku kusut saat ini. Rambutku yang mulai panjang pasti awut-awutan. Tidur membuat wajah berantakan disamping kesegaran badan didapatkan.

“100/70. Normal, Pak” Ia menjawab sambil melepaskan alat tensi itu. Kemudian ia berkata setengah memerintah.

“Bisa dilepaskan kaosnya, Pak?”

Aku memandangainya sekilas. “Maksudnya menyingkap atau melepas?” aku menyeringai bertanya. Suster Yuni menyadari perintahnya yang salah. “Maksud saya kaos Bapak disingkap agar dadanya terlihat, saya mau melakukan EKG” ulangnya dengan ucapan yang jelas dengan berusaha tetap ramah. Ia tak berani memandangku.

Akupun menyingkapkan kaos tidur yang kupakai.Dadaku yang bidang berbulu halus pun terlihat. Aku singkap kaos itu sampai mendekati leher agar ia leluasa meletakkan dengan tepat elektroda-elektroda penghubung pada mesin EKG-nya. “Jangan salah letak. Nanti grafiknya jadi bentuk hati, mbak!” aku mengingatkan sambil menggodanya. Aku memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Suster Yuni tak menjawab, ia hanya mengerling saja ke arahku. Segera dan cekatan ia menjepitkan elektroda penghubung itu pada ujung betis dekat kaki kiri dan kanan setelah menuangan gel di tempat itu di kedua kakiku. Lalu, ia pun segera meraba dadaku sebelah kiri dengan lembut. Perlahan jari jemarinya mencari letak tulang rusak dadaku untuk tempat elektroda, tak lupa ia menuangkan gel agar elektroda EKG bisa terpasang kuat di dadaku.

“Jangan menyentuh logam penghalang bed ya Mas…eh, Pak!” Perintahnya lagi. Akupun menjauhkan kedua kaki dan tanganku dari logam penghalang bed.

Suster Yuni setelah selesai memasang semua elektroda di dada bagian kiri dan kedua kakiku, ia lalu menghidupkan mesin EKG. Beberapa kali memencet-mencet tombol, keluarlah kertas dari mesin EKG itu.

Aku diam saja, tak mau lagi mengajaknya bicara agar ia tak grogi dan cepat menyelesaikan tugasnya.

“Bagaimana dengan detak jantungku, Suster?” tanyaku saat ia memperhatikan grafik itu. Suster Yuni berbalik menghadap ke arahku berbaring, namun ia tak menjawab sepatah pun. Sunyi beberapa detik.

“Tuch khan? Ada gambar hatinyakah?” tanyaku menggodanya memecahkan sunyi. Ia memandangku sebentar. Ia tampak kikuk dan jengah. “Maaf Pak,…eh, Mas, ada yang salah letak elektrodanya,” jawabnya terbata sambil memandangi dadaku yang bidang dan berbulu halus itu. Matanya mencari-cari kira-kira elektroda mana yang salah letak. Tak berapa lama ia memindahkan dua elektroda yang berdekatan.

“Sudah benar kali ini? Salah lagi nggak apa kok!” Aku berseloroh masih menggodanya. Ia diam saja namun aku tahu dia tersenyum manis ke arahku. Ia kembali membalikkan badannya ke arah mesin EKG dan keluarlah kertas bergambar grafik serupa lembah dan gunung dengan kerenggangan dan ketinggian yang berbeda.

“Yaaahhh, gambar hatinya hilang dechhh..!!” godaku saat aku diperlihatkan gambar grafik EKG itu. “Pindah kemana ya gambar hatinya?”

Suster Yuni tampak sabar, mungkin dia sudah hafal tingkahku. Jadi, dia tak menanggapi godaanku. Dia melepaskan satu persatu elektroda itu dengan perlahan agar aku tak merasa dicubit yang memungkinkan aku mengeluh dan ada alasan untuk menggodanya lagi.

Ia kemudian mengambil tissu dan perlahan menyapu membersihkan gel bekas elektroda di dada dan kakiku. Aku diam saja. Namun aku menggodanya dengan menjauhkan salah satu kakiku dari jangkauannya. Ia berhenti sebentar. Ia tak berusaha menjangkau kakiku. Ia biarkan saja.

“Terima kasih, ya Suster,” aku berkata saat Suster Yuni akan beranjak pergi. “Kalau gambar hatinya ketemu simpan aja buat Suster ya,” kataku agak keras kepadanya setelah ia beberapa langkah meninggalkanku sendiri. Ia berhenti sebentar, memalingkan pandangannya ke arahku sambil tersenyum. Manis sekali.

Kamarpun kembali sepi. Aku pun turun untuk ambil air wudlu segera shalat shubuh.

Kisah selanjutnya

https://penatajam.com/2017/07/14/bagian-2-suster-yuni/

——-mw——-

*) Cerita ini adalah cerita fiksi, jika terdapat nama yang sama adalah kebetulan semata.

**) Sumber gambar disini

52 COMMENTS

  1. Hak hak hak!
    Mbak Suster ndak suka gambar Hati tapi gambar Soekarno di kertas warna merah, mas…

    • Prof, baca seri keduanya Suster Yuni Antara Rasa Geli dan Rasa Takut… nama Prof kucatut disitu. Sekalian kasih argumentasi soal sisi ilmiah kita mesti diam jika bertemu beruang. Hehehehh

      **iklan

  2. (-) “Jangan menyentuh logam penghalang bed ya Mas…eh, Pak!”

    (+) iya mbak…eh sus…

    (-) Klo nyentuh yg lain boleh?

    (+) boleh aja, slama mbak..eh sus..berkenan..

    (-) Pasti berkenan mas..eh pak..sy mau nyentuh anu..boleh?

    (+) Boleh..

    Disentuhlah botol akua, diangkat dan diminumnya…segeeerrrrrrr……….

    • Wahaahhaha…. mbak Biy, lha susternya berumur 18+++… kalau ada adegan yg amat disuka orang dewasa 18+++ entat disensor simbah dan simbak ngademin…wahahahha… entar aja bikin adegan sendiri…

    • ssssttttt itu khan di rumah sakit…jadi harus ngikutn ending rumah sakit…di luaran endingnya lain…wahahahhaah…..

  3. Mas Wahyu,
    Kata Ermi Kulit:
    ” Tergoda, kini aku tergoda lagi,
    Karena ada senyuman menawan.”

    Semoga nggak menggoda untuk berlama-lama tiduran di rumah sakit yaaaa….hehehee..

    • Kalau ditungguin berlama-lama sich nggak apa2…heheheh… suster Yuni membuat betah…waahahahahah

  4. Cerita 18+++ yang membuat angan-angan berputar tak menentu bagai kabut diaduk angin lembah.

    • Heheheh…jadi lumayan banyak yang klik ya Pak. Maklum judul harus marketable… hehehhh.
      Tp nggak apa khan…nggak kena pasal UU ITE khan?

    • Mbak Lilik, trims mampir dimari. Satu lagi proses operasi, mbak. Operasi CABG atau bypass namanya. Dada harus dibedah.

  5. Suster Yuni. Lahirnya di bulan Juni ya? Suster Yuni suka parfum apa? Kalo Body Shop, Victoria’s Secret, atau Escada, sama kayak aku.

  6. Nanti kalo ganti dicontrol suster Tuti, Wati, Sandra dll lapor lagi ya.
    Siip, bisa mantau kondisi terkini kan.
    Setuju kan semuanya.

  7. Saya pikir itu gambar suster Yuni hehehe.., semoga lekas baik Mas Wahyu, salam buat suster Yuni yach

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here