Cerita tentang Moral Dilemma

Ngawursiana.com –Bayangkan saja Anda adalah detektif swasta yang hidup pada sebuah kota yang rusak. Kota dengan kehidupan warga yang terpuruk, lesu dan ketenangan yang palsu. Kota yang terjerat pada jejaring dan perseteruan kejahatan narkoba sementara aparat penegak hukum tak sepenuhnya bisa bertindak sebagai malaikat keadilan.

Lantas, di kehidupan yang lesu itu, pada suatu hari, Anda kedatangan sepasang suami istri yang memohon untuk mencari keponakan mereka yang diculik. Seorang bocah perempuan yang lucu dan membutuhkan lingkungan yang sehat untuk tumbuh. Bocah perempuan dari rahim adik sepasang suami istri itu. Bocah tanpa ayah.

Anda memang memiliki kapasitas untuk mencari informasi yang susah ditembus polisi. Informasi yang beredar di dunia bawah tanah karena Anda pernah ada di dalamnya: dunia gangster narkoba. Sementara itu, kasus penculikan sudah terlanjur heboh, menjadi sorotan media lokal.

Kota tempat Anda hidup memang lesu dan terpuruk namun penculikan anak masihlah kejahatan yang  menjadi musuh bersama.

Maka Anda pergi, bersama kekasih Anda yang juga partner luar dalam, menelusuri kesaksian, mengumpul dan mencocokan fakta, lantas menyusun hipotesa.

Anda menemukan keterangan-keterangan awal dan petunjuk yang menunjukkan jika ibu si bocah telah bersaksi palsu. Kepada dua orang polisi, ia mengatakan ia tidak meninggalkan anaknya ketika sedang bersama pacarnya, seorang operator bisnis narkoba. Mereka ada di dalam rumah yang sama.

Saksi Anda menceritakan pada malam penculikan itu, si ibu bersama pacarnya sedang mabuk heroin di kamar mandi sebuah kafe. Bocah yang manis dan lucu itu ditinggalkan di apartemen.

Keterangan kedua, si ibu dan pacarnya di malam itu sedang dalam pertengkaran. Mereka berdua baru menyelesaikan aksi merampas uang hasil pejualan narkoba yang berjumlah ratusan dolar. Aksi yang mencari perkara dengan salah satu Bandar keji di kota.

Dari dua keterangan penting ini, Anda menyusun hipotesa: si bocah diculik sebagai alat barter bagi uang hasil penjualan narkoba. Karena itu, ini bukan kasus penculikan yang bisa diselesaikan dengan penebusan sejumlah uang seperti para penculik yang mencari keuntungan.

Di sisi lain, polisi menyusun hipotesa dengan menghadirkan tiga pecandu narkoba yang juga ada pedofil. Namun mereka memilih untuk mengikuti hasil investigasi Anda dan kekasih yang berani dan keras hati.

Singkat cerita, kesepakatan pertukaran itu akhirnya bisa dilakukan sesudah polisi menunjukan transkrip telpon kepada Anda.

Lokasi pertukaran dipilih di sebuah danau yang merupakan bekas dam dari pembuangan limbah. Anda dan kekasih akan berdiri di sisi seberang untuk menjemput bocah dan polisi yang akan mengatur pengembalian uang rampasan.

Ternyata semua berjalan terbalik. Suara tembakan meletus, teriakan menggelegar, dan di permukaan danau, ada boneka yang mengapung. Pertukaran berantakan.

Kekasih Anda yang memiliki naluri keibuan itu melompat ke danau, menyelam, dan menjangkau segala yang bisa. Barangkali bisa menemukan tangan atau kaki si bocah. Tapi semua sia-sia. Tak ada apa-apa selain boneka mengapung itu.

Tak ada jasad dan kasus menuju titik buntu. Benar adanya, dalam beberapa tahun kemudian, aparat berwenang mengeluarkan surat keterangan kematian si bocah. Case closed.

Tapi kesedihan akan kegagalan menyelamatkan bocah itu bukan saja menghancurkan keluarga intinya. Ia juga merantai keceriaan kekasih Anda, wajah manisnya menjadi terus muram, mengurung diri, dan menyalahkan dirinya sendiri.

Anda?

Anda tetap saja seorang detektif swasta dengan kecurigaan yang terlatih. Khususnya curiga pada klaim kebenaran koherensial—kesesuaian bangunan logika berdasarkan bukti yang dirujuknya–dan kebenaran korespondensial—kecocokan bukti-bukti dengan peristiwa/faktualitasnya—yang masih menyisakan ruang bolong; puzzle yang belum lengkap.

Kesimpulannya: narasi penculikan itu terlalu mudah mencapai ending! Salah bereaksi, Anda bukan saja gagal koheren-koresponden tetapi jelas terancam sial.

Sebagaimana pepatah, bangkai yang disembunyikan rapi pada akhirnya akan menyemburkan busuk atau sepandai-pandai tupai melompat akan terjerembab juga, pergerakan hidup sehari-hari membawa Anda ke dalam “pintu masuk” untuk menghindari jalan buntu.

Anda dituntun untuk menemukan novum. Dan merekonstruksi logika yang lebih solid dan tangguh di depan falsifikasi.

Misalnya, Anda mendapat keterangan jika salah satu kolega polisi ternyata berteman baik dengan bos narkoba yang uangnya dicuri. Polisi ini memiliki standar moral yang keras: setiap penjahat kambuhan brengsek hanya boleh dihukum mati atau dipenjara selama mungkin. Ia tidak percaya pada potensi baik yang mungkin saja muncul kembali pada penjahat yang paling brutal sekalipun.

Anda juga menemukan bukti bahwa antara polisi dan bos narkoba itu tidak pernah melakukan percakapan via telpon yang ditranskripsi, sebagaimana kata komandan dua polisi, sebelum proses perturakan sandera dan uang curian dilakukan.

Anda lantas curiga pada kemungkinan ada hubungan antara suami dari si pemohon yang datang kepada Anda memohon bantuan mencari si bocah dengan salah seorang polisi. Anda mulai curiga, ada setinggan yang tak terbaca di balik kasus yang membuat pacar Anda terpuruk tanpa kemungkinan pulih.

Dari rentetan bukti dan pembuktian logis ini, Anda tiba pada inti kejahatan yang mengatur semua.

Penculikan bocah adalah rencana polisi yang berkoalisi dengan kakak dari ibu si bocah (paman). Bocah itu tak pernah mati. Hidup sehat dan bahagia bersama sang komandan yang memilih pensiun dini dengan bayaran setengah gajinya.

Komandan ini pernah memiliki anak yang meninggal dalam usia 12 tahun hanya beberapa meter dari rumahnya. Komandan yang memiliki rasa berdosa sebagai ayah yang gagal menjaga anaknya.

Perkaranya sekarang bukan semata melaporkan kisah sesungguhnya pada aparat hukum. Bukan semata menegakkan hukum dan mengembalikan keadilan: dalang sesungguhnya ditangkap dan si bocah dikembalikan kepada ibunya yang junkies itu.

Anda berada dalam dilema moral berkeputusan.

Anda tahu bocah itu terlihat bahagia bersama orang tua penculiknya, ia akan memiliki masa depan yang memiliki kemungkinan bahagia. Anda juga tahu jika ibu si bocah bukanlah rumah kasih sayang yang berfungsi layaknya ibu yang sepatutnya. Ibu si bocah adalah racun, seperti pesan kekasih Anda dan dia berharap, biarlah kisah sesungguhnya terbawa kabar kematian dan pertukaran sandera yang gagal di kepala warga kota sebagai kebohongan abadi.

Apa yang seharusnya Anda lakukan?

Membiarkan kisah sesungguhnya terkubur demi menyelamatkan masa depan bocah dari ibunya yang buruk tetaplah kebohongan yang keji. Namun mengembalikan si bocah kepada ibunya yang selfish dan hedon lantas memenjarakan dalang sesungguhnya juga tampak seperti “menyiapkan kejahatan” terhadap masa depan si bocah.

Satu yang jelas dari kisah di atas, apa yang prosedural harus juga memiliki kualifikasi moral.

Menegakkan aturan hukum adalah bagian dari mengembalikan keadilan. Bila salah satunya tiada atau berat sebelah, maka hidup yang teratur dan tentram hanya akan menjadi ilusi bersama. Namun masalahnya kondisi atau kasus dimana hukum dan keadilan harus ditegakkan itu tidak berada dalam “hubungan yang esensialis”: A adalah subtansi, sisanya ekses semata.

Pada ujung cerita, Anda melihat sendiri si bocah yang ditinggal ibunya yang binal dengan televise yang sedang memutar kartun. Ia tidak mendapatkan kasih sayang penuh sebagaimana pada komandan polisi dan istrinya yang malang.

Kekasih Anda benar, ibu si bocah adalah racun yang sudah mewatak. Anda juga tak salah, penculikan dengan alasan baik apa pun adalah tindakan melanggar hukum. Andai pun system hukum itu ditegakkan oleh institusi  yang sakit dalam dirinya (?).

Kenyataan tak pernah sederhana, terlebih tafsir-tafsirnya. Keputusan rasional yang berusaha taat pada “yang prosedural” tak selalu jalan terbaik. Celakanya, keberadaan yang prosedural itu membuat hidup bersama terhindar dari kekacauan, walau mungkin sementara.

Rasa tega tak berfungsi banyak disini. Kecuali Anda melakukan pembongkaran total, hal yang mustahil sebab Anda hanyalah baut kecil dari mesin keteraturan yang terlanjur mapan mengada. Tidakkah begitu adanya?

Anda tampaknya mulai sadar: yang rasional, yang moral dan yang prosedural tak pernah lurus-lurus hubungannya. Ada “yang politis” di antara mereka. Tapi jangan bayangkan yang politis sebagai kekuasaan di ruang-ruang dingin dan bebal di gedung perwakilan rakyat atau kantor-kantor partai politik. Yang politis selalu jauh lebih rumit.

Film Gone Baby Gone (2017) arahan Ben Affleck adalah tontonan yang lumayan untuk mengingatkan perkara sedemikian.

Nulis panjang biar kayak bener-bener gitu. Bernada dingin biar kelihatan serius dong ah. Apakah panjang dalam dingin dikarenakan…………………………………(bersambung).

***

Sumber Ilustrasi: Moral Dilemma | Philadelphia Magazine

S Aji

Udik. Pinggiran. Berbahaya!

Latest posts by S Aji (see all)

Rate this article!
Cerita tentang Moral Dilemma,4.63 / 5 ( 8votes )
Tags:

30 Responses

  1. author

    S Aji5 months ago

    Asiiiikkk, akhirnya ketemu sinyal yang sabar. akhirnya bisa ngisi kewajiban….

    Jangan sampai kena delete lo!

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Ohhh, tentu saja tidaak. Tidak berani cari masalah duung..

      Reply
      • author

        Difa5 months ago

        Awwwwwww

        Atuuuuttt

        Reply
    • author

      Difa5 months ago

      Tenaaaanggggg

      Gaaa ada yang berani
      Wkekwkwk

      Reply
      • author

        S Aji5 months ago

        Bagoooooossss. Saya kan pasukan khusus Mbah Peang

        Reply
        • author

          Difa5 months ago

          Hahahahahaa

          Mbaah Peang kemana Om?

          Reply
    • author

      mike reyssent5 months ago

      ????

      Reply
      • author

        S Aji5 months ago

        Delete karena jarang nulis Mbaa.
        Hiikkz

        Reply
  2. author

    Suyono Apol5 months ago

    Eh, ujungnya adalah… (!)

    Itu dilema yang pekik, saya cenderung membiarkan anak itu hidup bahagia dengan masa depan yang lebih jelas.

    Seru dan keren, Pak Aji.

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Iyaa Om Yon. Tidak mudah berdiri dalam opsi seperti itu, hehhe

      Reply
  3. author

    Difa5 months ago

    Jangaaan lamaaa lamaaa yaaaa om….

    Atiiiiiit nunggunyaaa

    Wkwkwkkwk

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Okeeeee Juragaaaaaannnnnnnnnn

      Reply
  4. author

    Ronald Wan5 months ago

    Panjang dan berat euuuy, hehehe

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Hahaha.
      Lagi kangen nulis panjaang2 Oom

      Reply
  5. author

    mike reyssent5 months ago

    Hmmm…
    Oom Aji, filmya tahun 2007..
    Hikz…

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Iyaa Mba, filmnya Affleck. Orang ini bikin film sering ngajak mikir. Tapi kalau dia main film, khususnya superhero, malah menghina pikiran. Aneh juga si Affleck nih

      Reply
  6. author

    Mbak Yun5 months ago

    Mas Aji,
    Menarik ceritanya, saya nunggu endingnya aacch..
    Semoga.. ASAP ya…hehehe

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Hahaha, sudah selesai Mba Yun, bersambungnya sebagai penutup aja.

      Reply
      • author

        Mbak Yun5 months ago

        Ooww…hahahaa.. culun banget diriku…

        Mas Aji, masalah sosial dlm kehidupan nyata memang sangat rumit.
        Di Australia misalnya ada campur tangan pemerintah lewat Dinas Sosial, itupun bisa menimbulkan polemik baru bagi kehidupan dan perkembangan si anak.

        Nggak gampang….persis seperti artikel ini….heheheeee…

        Reply
  7. author

    Mas Wahyu5 months ago

    Panjaaaaaaang….dan laaaaamaaa… tapi jadi detektif itu penuh tantangan dan penuh dilema…..**kebanyakan nonton Gotham

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      Panjang biar tambah semangaaat Mas, haghaghag
      Wah, saya belum nonton Gotham

      Reply
  8. author

    Susy Haryawan5 months ago

    masih bersambung juga Mas? byuuhhh…
    moral diuji, belum soal adil, dewan kita mampu gak ya? hooooo…hoooooo

    Reply
    • author

      S Aji5 months ago

      lembaga dewan itu sejak awal sudah salah secara moral Mas
      Huhuhuu

      Reply
  9. author

    S Aji5 months ago

    Setiap mo balas komen, harus login pakai laptop.
    Sementara untuk login, saya harus ketemu sinyal bagooos.
    Itu sebab sering gak bisa tepat waktu mbalasnya.

    Mangaaaap pemirsaaaa.

    Reply
    • author

      Joko Wardhono5 months ago

      Itu yang kadang masih sulit untuk bisa berbalas pantun langsung kayak di WA, ya mas Aji …

      Reply
  10. author

    Naftalia5 months ago

    Simpen dulu ah.. Ini bacaan nggak cocok disambi cuci baju. Nggak ngerti babar blass.. Cucian pun kacau.. hehehe

    Reply
  11. author

    sigit5 months ago

    Saya seperti seorang Detektif, ugh harus pelan2 supaya cepet nagkep alur ceritanya. Ditunggu sambungannya Mas Aji

    Reply
  12. author

    Hery Syofyan5 months ago

    Asli gw suka catatan dibawah bro, Nulis panjang biar kayak bener-bener gitu …ha..ha

    Reply

Leave a Reply